Minggu, 31 Desember 2023

TERIMA KASIH 2023

2023 kian terlewat, tahun yang penuh juang dan kenang akan makna terkandung di dalamnya. Tahun yang memberiku pelajaran sangat berharga. Bersyukur, terima kasih kepada Allah untuk semua yang diberikan-Nya.

Masih sedih? tak apa..
Masih merasa kurang? boleh..
Merasa lelah? sangat bolehh..
Putus asa? juga boleh..
Tak apa ..
Semua itu manusiawi kok. Namun, jangan berlarut-larut yaa..
Sebentar saja :)

Karena nggak bisa juga memaksakan sesuatu hal harus sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sepahit apapun situasinya, serumit apapun jalannya. Nggak boleh nyerah, dan tidak boleh nyalahin diri sendiri. Sebab, sejauh ini diri sendirilah yang mati-matian berjuang hingga sampai di titik ini.

Hey, tahun 2024 sudah di depan mata. Seperti tahun-tahun sebelumnya, harus dijalani juga kan? Jadi, terutama untuk penulis sendiri dan siapapun kalian yang membaca tulisan ini. Semoga di tahun baru ini diberikan keteguhan, ketabahan dan keikhlasan lebih lapang lagi dari sebelumnya. Membentuk keberanian diri untuk terus berpetualang tanpa lupa arah pulang.

Kita tutup 2023 dengan Alhamdulillah, yang paling penting instrospeksi diri. Dan beri diri sendiri lebih banyak ruang, untuk terus tekun dalam iman dan taqwa. Semoga kita semua dipertemukan lagi dengan tahun berikutnya dalam keadaan sehat, selalu dalam pelukan dan lindungan Allah SWT.

Aamiin.

20.32 WIB

Kamis, 28 Desember 2023

MUHASABAH DIRI

Jangan pernah membenci. Apapun yang kamu alami, jangan pernah membuatmu menjadi muram. Itu hanya akan memperkeruh hatimu.


Tetaplah menjadi pribadi baik, memperkuat sabar, ikhlas dan tidak dendam. Dan jadilah manusia pemaaf, karena disetiap perbuatan ada balasannya. Dan disetiap sabar sudah pasti ada ganjarannya.


16.07 WIB

Aku berserah kepada-Mu Yaa Allah, lapangkan hatiku untuk dapat menerima semua yang ingin Engkau berikan kepadaku. Bantulah aku untuk meringankan beban dan berjalan dengan bebas dalam iman, percaya bahwa rencana-Mu untukku akan selalu lebih besar daripada impian terbesarku.


Yaa Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah aku perbuat. Sadarkanlah aku bahwa kebaikan-Mu akan selalu lebih besar dari kesalahanku, dan cinta-Mu akan selalu lebih besar dari rasa maluku.


Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nasir."


Mampukan aku mengangkat derajat orang tuaku Yaa Allah, aku ingin mereka bahagia di usia senjanya.


Aamiin.


04.40 WIB

Selasa, 19 Desember 2023

SANTRI WEEKEND 2023

Bermula dari ajakan temen, untuk mengikuti kajian rutin setiap senin malam yang diselenggarakan di pondok pesantren AR-RAUDHAH Solo. Namun hari itu, temen berkata dicancel aja. Sebab, habib yang menjadi pembicara malam itu berhalangan dan kebetulan hari itu hujan deres juga.


Keesokan harinya, dapet kiriman poster via WhatsApp dari temen seangkatan. "Lur, jum'at ikut santri weekend yok, cuma 3 hari doang kok, nginep disana" ajakan temenku. "Ayok gass lur" jawabku. Singkat cerita langsung registrasi, agar dimasukkan kedalam grup WA Santri weekend Putra lainnya. Guna mendapatkan informasi lanjutan yang di share ke dalam grup tersebut.


Jum'at, ba'da sholat Ashar kami berangkat ke pondok pesantren AR-RAUDHAH. Setibanya, langsung diarahkan mendaftar ulang dan mengambil ID Card, diarahkan lagi menuju penginapan. Banyak sekali ilmu yang kudapatkan disini, terutama kedisiplinan. Mematuhi peraturan selama di area pondok pesantren, bangun subuh, sholat berjamaah 5 waktu.


Malamnya, ba'da isya mengikuti majelis kajian Habib Novel Alayidrus hingga selesai. Usai kajian, Santri Weekend dipersilahkan untuk istirahat, dan diingatkan harus bangun sebelum adzan subuh.


Ba'da subuh lanjut dengan dzikir dan kajian hadist serta sholat isyroq pun dilakukan. Usai sholat isyroq, lanjut lagi belajar bareng dengan Eyang Husein, belajar bareng ini berjalan seru banget. Soalnya ditemani dengan segelas kopi dan sebuah roti hehe. Sebelum sesi tanya jawab, Eyang Husein menyampaikan terlebih dulu ilmu tentang pola hidup sehat. Salah satu pesan beliau "Jangan ketergantungan dengan obat pil tablet, ataupun kapsul dsb. Itu sangatlah berbahaya bagi kesehatan. Untuk mengobati penyakit, carilah penyebabnya apa, bukan cari obat untuk menyembuhkannya. Kalo sudah ketemu penyebabnya, hilangkan kebiasaan itu. Insya Allah hidup sehat wal afiat."


Dan banyak lagi ilmu yang disampaikan oleh Eyang Husein pagi itu. Lanjut sesi tanya jawab bersama Eyang Husein. Berbagai macam pertanyaan yang di pertanyakan oleh para santri. Masalah hati, hutang piutang, hal gaib dan pertanyaan yang paling banyak adalah masalah pernikahan. Semua dijawab Eyang Husein satu persatu, yang seru banget adalah karakter humoris Eyang Husein dalam menjawab semua pertanyaan Santri Weekend ini. Sehingga suasana hidup dan tentunya agar tidak mengantuk.


Kemudian setelah sarapan pagi dan mandi, lanjut dengan kajian. Sesuai dengan tema utama "Memperbaiki Sholat" disini mempraktikkan bacaan sholat secara bersama-sama. Mulai dari Niat, Takbiratul Ihram, hingga bacaan terakhir membaca Tasyahud Akhir dan Salam. Kemudian, dikaji satu persatu sembari mempraktikkannya.


Dan yang aku suka adalah belajar ilmu Tajwid. Disini aku kembali mengingat apa yang aku pelajari sewaktu SMP dulu, yang kini hampir lupa. Mulai dari Makharijul huruf, Mad, Mim mati, Tanwin dan Idgham. Intinya selama mengikuti kegiatan Santri Weekend di Pondok Pesantren AR-RAUDHAH Solo ini, banyak ilmu yang aku dapatkan dan dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.


Terima Kasih kepada Habib Novel Alayidrus, telah mengadakan kegiatan ini secara gratis. Telah memberikan ilmu bermanfaat bagi semua Santri Weekend 2023. Insya Allah berkah, Jazakumullah khairan katsiran.


05.13 Sambil ngopi.

Minggu, 17 Desember 2023

TERUNTUK AKU

Hai aku... Tak terasa sudah penghujung tahun yaa, itu berarti porsi untuk berpijak diatas bumi Allah ini berkurang dikit demi sedikit. Merem bentar dah ganti hari, jalan sana sini dah akhir pekan, pikir ini pikir itu dah ganti bulan. Yaa Allah secepat itu waktu berlalu....

Pesan teruntuk aku "Hidup adalah perjalanan, bukan perbandingan. Maka jangan bandingkan prosesmu dengan orang lain yaa. Kita hidup memang di bumi yang sama, tapi dengan takdir yang berbeda. Tak apa jika belum menjadi apa-apa. Tak apa jika sedikit lambat prosesnya. Tak apa... Tak apa pokonyaa.. Namun, jangan pernah lelah yaa, tetap semangat, tetap merendah dan teruslah berbenah."

Wahai aku, yakinlah ketetapan-Nya pasti indah. Kepada-Nya berserah, jangan patah, jangan menyerah. 

Dan dilarang runtuh..
Wajib tumbuh.. :)


22.12 WIB

Rabu, 13 Desember 2023

JALUR LANGIT

Ba'da subuh aku teringat tulisan ini, mempercepat langkah untuk menulisnya lagi. Tapi aku lupa bacanya dimana hehe. Aku abadikan lagi disini yaa :)

Bunyinya begini..

"Tak perlu takut akan kehilangan tersemat dihatimu. Jika seseorang itu baik untukmu, maka Allah akan menjaga hatinya hanya untukmu. Mau dia dekat dengan siapapun, disukai oleh berapa banyak orang pun, Allah akan tetap sendirikan dia, sampai akhir dia dipertemukan denganmu jangan khawatir. 

Apapun yang Allah takdirkan untukmu, takkan Allah biarkan untuk menjadi milik orang lain."

Memang sih, disaat kita jatuh hati pada seseorang. Perihal kehilangan itu pasti ada, tapi sekadarnya saja yaa hehe. Serahkan kepada-Nya saja, semua yang kita minta maupun yang tidak kita inginkan terjadi sekalipun. Itu sudah menjadi ketetapan-Nya.

Teringat kata-kata ini juga "Siapapun kalian, teruslah meminta kepada Tuhanmu. Minta semua yang kau inginkan, sebut dan bisikkan di sujud terakhirmu. Insyaa Allah, Tuhanmu mendengar dan mengabulkannya. Dengan syarat, kerjakan perintah-Nya dengan khusu'." Kata Habib Novel Alaydrus pada saat kajian kemarin.

Intinya, apapun yang terjadi hari ini dan kedepannya yang masih misteri. Jangan lupa libatkan Tuhanmu. :)


05.00 WIB



Senin, 11 Desember 2023

JEDA

Terkurung rasa

Mengalah tak kuasa

Setitik ruang mencipta dilema

Enggan mengurai simpul bersama

Asing seirama, getar qalbu senada

Kini mengasing dalam pekat asa

Bak larik-larik terhenti koma


Jeda

Biar, apa adanya

Tak luput do'a, berbisik meminta

Sebaik-baik pinta pada yang Esa

Hingga dipenghujung, temu titik terang berada

Dalam ruang dan arah langkah semestinya.



04.41 WIB.


Kamis, 07 Desember 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 8 (Tamat)

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara aku dan dia semakin dekat. Hari-hari selalu saling berkabar, tegur sapa, tanya menanya, hingga rasa itu semakin tersemat. Sampai suatu ketika, aku ingin menemuinya, guna mengungkapkan apa yang selama ini kurasakan. Namun aku menundanya, sebab dia sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirnya. Takut mengganggu pemikiran dia yang sedang fokus menyelesaikan Skripsinya. Tak lupa support kuberikan, agar dia semangat mengerjakan hehe.


Singkat cerita, 14 Juni 2023 dia selesai sidang ujian pendadaran. Hari itu aku datang, "Selamat Es**" ucapku sembari memberikan bingkisan untuknya. "Terima kasih bang" balasnya. Di tengah obrolan, temannya yang lain terus berdatangan. Lanjut sesi berfoto, seperti biasa fotografer selalu standby hehe.  Setelahnya, lanjut ke gedung yang lain. Seorang temanku juga sidang ujian pendadaran hari itu. Sesampainya di gedung itu, ku ucapkan selamat juga kepada temanku sembari memberikan bingkisan. Dia hadir belakangan kala itu, tak lupa mengabadikan moment lagi. "Ckrekk ckrekk" beberapa kali oleh "udang kecil" nama panggilan sahabat dia yang dateng dari jogja waktu itu.


Keesokan harinya "udah pendadaran nih, mau ngomong apa?" Ucapnya via WhatsApp. Instan janjian di satu tempat untuk bertemu hari itu juga. Malamnya aku dan dia bertemu, dengan memesan 2 gelas minum sebagai pembuka.


Usai pertemuan itu aku menulis ini :

"Setidaknya aku sedikit lega, sebab aku sudah memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Walau dengan nervous yang membuncah, namun aku tak mau kalah.


Benar katamu, solusi yang tepat untuk saat ini hanya itu. Sebab, kau dan aku tak ingin ada hubungan yang dilarang-Nya. Aku setuju.


Ternyata se-asyik itu ya ngobrol denganmu, dari intonasi bicaramu adem banget. I like that. Maaf kalo cara bicaraku tidak seperti biasanya. Sebab, nadiku auto berdenyut lebih cepat saat di depanmu. Maaf juga atas pertanyaanku, yang hampir saja membuat butir-butir kristal bening itu menetes. 


Terima kasih sudah welcome. Kau hebat, aku terenyuh mendengar ceritamu."


Singkat cerita, malam itu kami memutuskan cukup dengan berteman saja dulu. Sebab, aku dan dia belum siap untuk menjadi genap. Rasa itu hadir di waktu tak tepat dan kesiapan masing-masing belum terlihat. Dengan berjalannya waktu perlahan, aku dan dia berteman baik hingga sekarang.


Selayaknnya teman, dia memberikan support padaku yang juga tengah mengerjakan Tugas Akhir Skripsi. "Semangatttt, Yassarallah" ucapnya disertai emot senyum hehe. "Nggih, siapps" balasku. Tiba saatnya aku ujian sidang pendadaran, jadwal sudah ditentukan. Pada Senin, 27 November 2023 lalu, jam 13.00 WIB di gedung Dekanat dimana awal cerita ini bermula :)hehe. Pukul 15.00 WIB ujianku selesai, namun dia datang belakangan. Sebab, dia kerja hari itu. tak lama ternyata dia datang juga, dan menghampiriku "Gimana tadi bang? lancar?" Sembari memberiku bingkisan. "Makasihh, Alhamdulillah lancar" ucapku dan tersenyum sambil memandangi pemberiannya itu. "Hehh, nanti bukanya" katanya. "Siapp" jawabku. Setiap bertemu dengannya jujur aku sulit mengganggapnya sebagai seorang teman, namun aku berusaha keras melakukannya. Memang sih agak canggung sedikit, karena perihal rasa tak dapat ditutup-tutupi, gerak-gerik seseorang yang lagi jatuh hati itu mudah sekali dibaca hehe.


Namun aku dan dia adalah "teman baik", masing-masing dari kami berusaha serupa, saling bersikap sebagai teman. Jikapun nanti disatukan, aku percaya itu campur tangan Tuhan. Dan jikapun nanti rasa itu terpaksa berakhir, itu sudah jalannya takdir. Semoga aku dan dia terus berteman baik, saling mengingatkan pada hal yang positif dan menuntun pribadi masing-masing menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Sehat selalu orang baik, jangan lelah menyibukkan diri dalam kebaikan. Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.



TAMAT.


Ba'da Subuh, 04,25 WIB.







Rabu, 22 November 2023

Yaa Allah ...

Jika aku adalah salah satu penyebab seseorang terluka, tersinggung dan mendapat masalah atau dalam bentuk apapun itu. Aku mohon permudah dan sembuhkanlah mereka Yaa Allah.

Maafkan dan ampunilah diri ini Yaa Allah ..

23.00 WIB

Selasa, 31 Oktober 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 7

Hai semua, kalian para pembaca dimana pun berada.
Lumayan lama yaa mimin tidak update, dikarenakan ada beberapa sebab musabab hehe. Baiklah mari kita lanjutttt :)

~~~~

Usai pertemuan di acara wisuda hari itu, beberapa hari setelah bertemu kembali di bandara. Saat itu aku dan teman lainnya mengantar teman sedaerahku ke bandara yang hendak pulang kampung sebab sudah menyelesaikan studinya. Saat itu aku dan teman sedaerahku lebih awal sampai di bandara. Dia dan satu temannya menyusul, sebab saat itu mereka sedang menunggu legalisir ijazah teman sedaerahku di akademik kampus. Seharusnya yang menunggu legalisir ijazah tersebut adalah teman sedaerahku, namun karena teman sedaerahku sudah mendekati waktu check in di bandara maka dia dan satu temannya dimintai tolong buat menunggu legalisir ijazah itu hingga selesai.

Setelah legalisir Ijazah teman sedaerahku selesai di legalisir, dia bergegas menyusul kami ke bandara. Setelah aku selesai membantu teman sedaerahku check in, dan kembali keluar untuk menunggu dia di depan pintu keberangkatan. Tak lama dia sampai, sesampainya di bandara "huhh, capekkk" ucapnya. Aku cenderung diam, tersenyum dengan menatap dia berkali-kali. Sebelum teman sedaerahku masuk kedalam, sempat kami berfoto bersama. Dengan posisiku tepat di sebelah kanan dia, aku tersenyum dengan sedikit jarak. "Ckrekk" moment terabadikan hehe. Juga ber-selfie beberapa kali, sebagai tanda perpisahan dan untuk kenang-kenangan.

"Baiklah nak, kami berangkat dulu" pamit orang tua teman sedaerahku sembari menjulurkan tangan dan mengucap "Terima kasih nak sudah mengurus adik-adikmu ini selama di Solo", spontan aku bersalaman menjawab "sama-sama Mak" dan juga bersalaman dengan teman sedaerahku saat itu. Disini aku melihat sebuah "ketulusan". Terisak, dada sedikit sesak, saat sahabatnya itu pamit hendak beranjak. Sedih dan haru yang sangat, aku melihat mata dia berkaca-kaca usai berpelukan erat. Pertama kali aku melihat dia meneteskan air mata "hm.. ikut terharu" ekspresiku sedikit tersenyum menatap dia. Tak lama, orang yang kami antar masuk perlahan lewat pintu keberangkatan dengan melambaikan tangan ke arah kami. Setelah melewati pintu, teman sedaerahku tidak menoleh lagi kearah kami, aku tahu mata mereka juga berkaca-kaca. Dan bersedih campur haru saat perpisahan saat itu.

Mereka sudah tak terlihat, kami juga melangkah kearah parkiran. Sesampainya dibawah plyover kereta "Hp es** udah di balikin?" tanyaku. "Hahh .. bercanda yaa" jawabnya dengan mengira kalau aku bercanda. "Beneran, udah dibalikin apa belum?" tanyaku lagi. "Belummm bang" jawab dia dengan sedikit cemas. Spontan aku menelepon teman sedaerahku untuk turun sebentar dari waiting room untuk mengembalikan Hp dia. "Aku aja yang ambil bang" kata dia dan hendak menyusul sahabatnya itu "Dah, tunggu disini aja" kataku. Spontan aku kembali lagi ke pintu keberangkatan itu, untuk mengambil kembali Hp dia yang tak sengaja terbawa oleh teman sedaerahku saat itu.

Flashback, jadi Hp dia dipinjamkan ke sahabatnya itu untuk pergi ke suatu tempat destinasi wisata, usai wisuda saat itu bersama keluarga. Dengan tujuan agar foto lebih apik sedikit hehe. Setelah aku menerima Hp dia dari teman sedaerahku, tak banyak bicara teman sedaerahku itu langsung bergegas masuk lagi, sebab gate sudah dibuka yang akan segera boarding. Aku juga melangkah ke arah parkiran lagi, dari jauh sudah terlihat dia duduk disana bersama teman yang lainnya. Sesampainya diparkiran "Nihh.." kataku. "Makasih bang" jawabnya, "sama-sama" kubalas lagi. Kemudian kami beranjak pulang.


Bersambung ....

Senin, 09 Oktober 2023

Jangan risau...
Aku tak mempermasalahkan apapun perihalmu. Yang ku tahu, disini selalu ada ruang untukmu. Telingaku terbuka lebar mendengarmu.

Biar kuberi tahu...
Bila suatu waktu batinmu meringis, merintih dalam tangis, tertatih hingga tak mampu kau tepis. 

Datanglah kapan pun kau mau...
Ceritakan laramu, sampaikan keluh kesahmu. Yaa, walaupun mungkin tak ada solusi yang dapat kuberi. Namun setidaknya amarahmu sedikit reda, tenang dan lega.

Jaten, 04.35 WIB

Rabu, 27 September 2023

KAU RUMAH

Hai puan, sudikah sejenak kau bercengkrama?
Bertegur sapa, bertukar cerita
Mungkin tanya menanya
Kau sedang apa, pun hal lainnya

Rasa syahdu, kerap terlukis diantara senyum merekah
Getaran kalbu merindumu kian merambah
Membucah, mengukir resah
Jemariku menari tak musnah
Bait-bait melagu seraya gelisah
Melarikkan namamu dengan megah

Tak ada sajak paling indah
Kecuali menjadikan kau rumah.

Rabu, 20 September 2023

Kau tahu?
Tidak penting sih, tapi kau juga harus tau
Aku rindu

Kau harus tau
Tawamu beberapa hari lalu
Iya, disaksikan boneka kuning dalam mesin japit itu
Ah, begitu candu
Hingga kini terngiang-ngiang dibenakku

Kau harus tahu
"Rindu itu berat, biar aku saja".

Kamis, 07 September 2023

SECANGKIR KOPI MALAM

Malam kian larut

Kopi ku seruput perlahan surut

Sembari mengeja huruf, terbersit takut kau sebut

Seketika pikirku kalut


Hm..

Aku juga risau, prihal kehilangan merenggut.

Senin, 04 September 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 6

        Seperti kataku sahabat Merapi itu adalah saksi bisu, perantara temu. Sejak pulang dari Merbabu, aku merasakan sesuatu yang sangat kuat. Iya, sesuatu yang mendorongku untuk mencari tahu apa saja yang berkaitan dengannya. Mulai dari Instagram maupun dari tulisan-tulisan dia. Terhitung sering aku stalking Instagram juga Tumblr-nya, mulai dari baca tulisan-tulisan dia, watching reels di Instagram, scrolling postingan dia. Intinya semua tentang dia. Dari sini aku tahu sedikit tentang keluarga dia, apa kesukaan dan cita-citanya. Terus saja kulakukan berulang-ulang, gabut sedikit hatiku instan mengarahkan untuk ngestalk dia. Juga tak bosan-bosan, melihat-lihat foto-foto di Merbabu kala itu. 

        Hingga suatu saat aku membuka grup WhatsApp pendakian gunung Merbabu waktu itu, yang ada dia didalamnya. Aku ingin sekali menghubunginya via WhatsApp, tapi aku masih ragu. Karena tidak tahu cara bagaimana menyapa duluan. Takut juga nanti dia merasa tidak nyaman jika aku menghubungi dia dengan tiba-tiba begitu. Akhirnya, kontak dia aku save. Dengan alasan "ahh, di save aja dulu deh". Beberapa hari kedepan, dia memposting video joget-joget kami di gunung Merbabu waktu itu. "Ternyata dia ngesave kontakku?" bertanya-tanya dalam benakku. Aku tak tahu apakah dia yang duluan ngesave kontakku, atau aku yang lebih dulu. Saat itu, yang kurasakan senang bercampur panik jugaa wkwk. Senang karena aku bisa melihat status dia, panik karena gimana nanti kalo ditanyain kenapa aku ngesave kontak dia. Namun, sampai saat ini pertanyaan itu belum terdengar ditelingaku.

        Berulang kali aku replay status dia, hingga aku memberanikan diri untuk komen pertama kalinya. "Aduhh, jogetku kek gimana gitu yaa" komenanku pada statusnya. "Geli sendiri ya bang wkwk" jawabnya. Itu awal percakapan aku dan dia di WhatsApp. Tak banyak percakapan saat itu. Langsung ditutup dengan kata "gapapa, buat kenang-kenangan" balasnya. Berselang beberapa hari kembali aku komen di status WhatsApp dia. Kali ini dia posting story sedang memainkan gitar. "Wahh, ternyata multitalent" kataku. "Stiker malu-malu" balas dia. Hampir setiap Minggu ada saja status dia yang aku respon. Dari sini aku dan dia mulai sering chattingan. Bertegur sapa, tanya menanya, semangat menyemangati satu sama lain. Pasalnya dia sedang dalam penyusunan skripsi kala itu, dan aku juga dalam menyusun proposal. Alhamdulillah dia welcome, mungkin saat itu juga rasa yang kurasakan, sudah terbaca olehnya.

        Bulan Ramadhan tiba, lagi dan lagi aku bertemu dia. Kami berencana untuk sholat tarawih di Masjid Raya. Dia ikut saat itu, dan aku juga mengajak teman-teman yang ada dikontrakkan. Sorenya kami berangkat bersama-sama, setibanya kami berbuka puasa terdahulu dengan takjil yang telah disediakan disana. Lanjut dengan sholat magrib. Tak lama sholat isya, lanjut dengan sholat tarawih 23 rakaat. Usai tarawih kami keluar, ternyata dia dan teman sedaerahku sudah diluar. Sebab mereka melakukan sholat tarawih hanya 11 rakaat saja. Kami bertemu di halaman masjid. Karena masjid ini terhitung baru selesai dibangun, kami menyempatkan mengabadikan moment dengan berfoto beberapa kali disana. Disini aku dan dia tak banyak bicara. Sebelum pulang "jadi bang stikernya?" Tanya dia di parkiran. "Emang bawa?" Tanyaku kembali. "Bawa" kata dia sembari memberiku stiker. "Thanks you" ucapku. Nah, stiker ini aku minta saat aku komen status dia waktu itu. Ternyata benar dikasih hehe.

        Tiba saatnya acara wisuda teman sedaerahku. Disini aku kembali bertemu dengan dia. Dan profesi kami pada hari itu sama, yaitu sebagai fotografer hehe. Aku sebagai fotografer teman sedaerahku, sedangkan dia sebagai fotografer sahabatnya yang wisuda hari itu juga. H-1 dia menghubungiku "bang, besok kesana jam berapa?" Tanya dia di WhatsApp. "Jam 08.00 mungkin" jawabku. "Walah rajin kali" balas dia lagi. "Ehh ngga tau juga sihh" kataku. Di akhir percakapan "Besok infoin aja bang" tutupnya. Dan aku mengiyakannya.

        Hari H hampir pukul 10.00 dia menghubungiku lagi. "Dah di kampus bang" tanya dia. "Depan TK" balasku. "Oke" balas dia dengan singkat. Tak lama dia tiba di kampus dan aku sudah stay disana sedari pagi. Aku melihatnya memarkirkan motor. Setelahnya, dia berjalan mendekat sembari aku melambaikan tangan. Detak jantungku mulai tak biasa, degup tak beraturan kurasakan. Dia sampai tak berbicara denganku sama sekali. "Pasti dia merasakan hal yang sama" benakku. Terus saja diam tanpa berbicara sekalipun. Untungnya disana ada beberapa teman lainnya, sehingga aku dan dia tidak terlalu canggung. Dan bisa mengobrol dengan teman-teman yang ada disana saat itu.

        Acara wisuda usai, profesi fotografer saatnya beraksi. Ku bergegas menemui teman sedaerahku, dan dia juga bergegas menemui sahabatnya. Sementara berpisah untuk melakukan aktivitas masing-masing. Teman sedaerahku meminta berfoto di depan gedung rektorat kala itu. Hingga siang, sesi berfoto belum juga selesai. Saat aku dengan teman sedaerahku, dia berkata "itu mbaa es** bang". "Manaa?" Jawabku sepontan. "Ciee" kata teman sedaerahku. Aku tersenyum malu. Teman sedaerahku langsung memanggil dia, dan dia berjalan menghampiri kami saat itu. Jantung berdebar, berdetak, dan berdegup lagi. Berusaha sebisaku untuk bersikap biasa saja. Namun, terlihat canggung juga. Tepatnya salting sih hehe. Saat itu dia dan teman sedaerahku yang merupakan sahabat dekatnya juga, berfoto ceria bergembira. Seperti biasa, aku sebagai juru kamera hehe. Teman sedaerahku meminta aku dan dia foto berdua. Namun tidak berfoto saat itu, sebab aku malu, dia juga tak mau. Karena tidak bisa biasa-biasa saja. 

        Setelahnya, kami duduk di trotoar jalan depan rektorat. Disini aku dan dia sempat mengobrol sepatah dua patah kata. "Itu kamera siapa?" Tanyaku. "Kamera temen bang" jawab dia. Dan obrolan-obrolan lain perihal kamera. Sempat juga aku dan dia difotokan teman sedaerahku. "Foto bang?" Tanya dia. "Hm.. tersenyum" ekspresiku. Sedikit malu, dan dia mengekspresikan pose yang kataku "seperti kerasukan wkwk". "Cekrek cekrek beberapa kali" difotokan oleh teman sedaerahku. Sebelum pulang, dia minta difotokan di depan rektorat. "Sana biar tak fotoin" kataku. Langsung dia berpose, tampak sekali dan terbaca olehku. Dia juga tak bisa biasa-biasa saja. Kuambil gambar dia beberapa kali, setelah kami beranjak pulang. Karena terik mentari sangat menyengat hari itu. 


Bersambung ....

Minggu, 20 Agustus 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 5

    Aku bergerak duluan, teman-teman lainnya juga ikut memikul barang bawaannya dan melangkah turun perlahan. Pos 2 terlewati, namun aku dan 2 teman cowo lainya terus melangkah sehingga 7 teman lainnya jauh tertinggal di belakang. Lama berjalan menurun kaki mulai bergetar (tremor), sekali-kali beristirahat sejenak. Lutut lemas dan melangkah semakin malas. Kami tiba di pos 1, beristirahat sembari menunggu teman-teman yang tertinggal di belakang. 

    Setengah jam berlalu, mereka tak juga tampak. Dupa yang kesekian kunyalakan, terus mengepul sembari melirik-lirik jalur pendakian. Namun belum juga ada suara mereka mendekat. "Lama juga mereka yaa" kata teman disebelahku. "Mungkin lagi rehat" kataku. 1 jam menunggu, akhirnya mereka tiba juga. Tampak raut wajah lesu. Kurasa mereka merasakan hal yang sama, sebab terlihat beberapa teman turunnya berjalan mundur. "Lebih enak naik" kata mereka. "Menurutku sama aja" kataku. Semua teman telah sampai di pos 1 ini. Beristirahat sekitar 20 menitan, lanjut bergerak lagi melangkahkan kaki. Sampai di gerbang pendakian lagi. Disini dia menyempatkan berfoto beberapa kali, aku dan beberapa teman tidak berhenti lagi, terus melangkah hingga sampai di basecamp duluan. Dan foto dia di gerbang pendakian ini masih ada di sorotan Instagram dia, dengan caption "Foto sebelum pendakian ❌, foto setelah pendakian ☑️". Ketahuan deh sering kali aku stalking wkwk.

    Kemudian kami sampai di basecamp hampir pukul 18.00 sore. Setelah sampai kuturunkan carrierku, lepas sepatu dan kaos kaki yang sedikit beraroma tak sedap hehe. Duduk di kursi depan basecamp, kunyalakan dupaku sebatang lagi. Tak lama teman-teman lainnya juga tiba. Kuingat saat itu dia berkata "rokok terusss" ujarnya. ":)" kubalas dengan senyuman. Sampai di basecamp semua personil kelelahan. Tampak raut wajah mereka sudah tak girang, membujurkan kaki sembari rebahan. Beberapa teman mulai membersihkan badan dengan bergegas ke ruang pemandian. Juga denganku segera mandi dan berganti baju. Setelahnya kusisir rambut gondrongku di depan mereka yang sedang mengisi daya Hp, dan ditertawakan dengan becanda. "Mungkin aku lucu kalo gondrong" pikirku hehe.

    Tak habis pikir pemilik basecamp ternyata mata duitan wkwk. Sebab di pos check in pendakian, sudah dinyatakan bahwa biaya basecamp sudah termasuk dalam registrasi awal yang kami bayarkan disaat check in tersebut. Namun, saat kami hendak pulang malah dipungut biaya lagi oleh pemilik basecamp. "Hm... ya mau gimana lagi" kataku. Terpaksa kami membayar dengan sedikit terpaksa. "Tidak papa, rungkad sedikit" wkwkw. Kami memutuskan untuk pulang hari itu juga. Kami langsung packing barang dan peralatan. Selesai packing, aku keluar untuk membersihkan jok motor yang penuh dengan debu pasca erupsi merapi kemarin. Kebetulan dia sudah selesai membersihkan motornya dan memanaskan mesin. Aku mendekat ke arah motor, tapi tak ada kain untuk mengelap motor itu. Alhasil "Pakai kanebo motorku nih bang" kata dia. "Boleehh" kataku. Selesai mengelap motor dan segera ku kembalikan kepadanya.

    Semua personil siap, kami berangkat pulang. Dalam perjalanan sempat berhenti sebentar untuk makan. Dan kami makan nasi goreng saat itu. Nasi gorengnya enak menurutku dan porsinya jumbo jugaa hehe. Tak lama kami melanjutkan perjalanan. Dan tiba ditempat perkumpulan awal sekitar pukul 23.00 malam. Semua carrier kami tumpuk disana, kami putuskan untuk istirahat dulu dan untuk membongkarnya esok hari sajaa. Semua personil bergegas kembali ke tempat tinggal masing-masing, kecuali dia dan teman cewe lainnya hanya tinggal disana. Sebab, tempat perkumpulan itu adalah tempat tinggal mereka.

    Keesokan harinya, aku dan teman-teman kembali lagi, untuk membongkar peralatan yang dalam carrier itu. Karena batas sewa sudah habis, maka kami hendak mengembalikannya. Setelah semua peralatan yang disewa selesai dibongkar dan dipisahkan, aku dengan beberapa teman hendak mengembalikannya. Akhirnya selesai juga petualangan itu, dan teman-teman lainnya juga kembali pulang untuk melakukan aktivitas masing-masing.

    Nah, itulah cerita awal aku dekat dengan dia. Seperti kataku "Merbabu saksi bisu, perantara temu". Disinilah mulai ada tegur sapa, obrolan maupun perbincangan lainnya. Walaupun perbincangannya biasa saja, namun jujur rasa dalam dada tak biasa. Tapi saat itu masih tersimpan dalam pendam, tanpa terlalu tampak oleh pandang mata. Selanjutnya masih sering ada pertemuan-pertemuan aku dengan dia. 


Bersambung ....

Kamis, 27 Juli 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 4

        Alarm berdering tepat jam 02.00 dini hari, sontak mata terjaga dengan pandang remang-remang. Satu persatu teman mulai bercengkerama, dengan riangnya membangunkan teman-teman lainnya juga. "Bangun woyy, tangi-tangi" teriak seorang teman. "Iyooo" sambut teman lainnya. Walau dingin, semua harus keluar dari hangatnya sleeping bag masing-masing.

        Semua siap dengan head lamp di kepala. Sudah siap buat menerangi jalan untuk kami summit kala itu. Kami hanya membawa sedikit bekal, air 3 botol Aqua dan snack buat cemilan di puncak nantinya. "Sudah siapp?" Tanyaku. "Sudah" jawab sebagian teman. "Gasss" ucapku. Tepat pukul 03.00 mulai melangkahkan kaki dengan kakunya, sebab gigil masih melanda. Langkah demi langkah sembari aku menerangi jalan dengan senterku. "Senter dikepalamu ngga hidup yaa?" Kataku pada dia. "Ngga bang, habis baterai kayaknya bang" jawab dia. Hingga aku memperlambat langkahku, dengan sesekali menerangi jalan dia sambil foto sana sini, memotret merapi dihiasi lampu kota dini hari. Lumayan lama menapak suhu tubuh mulai meningkat, perlahan badan terasa hangat. Puncak terlihat, namun langkah agak berat. Teman sedaerahku "harus nyampe puncak, nanti ada yang kecewa" kata dia. Jingga mulai tampak, namun kami belum juga sampai puncak. "Sedikit lagi, yokk yokk semangat" kataku. "Siap" sambut teman yang lain. 

        Teman lain ada yang lebih dulu menapak, dan sudah sampai di puncak suwanting. Tapi kami masih meniti jejak, menyicil langkah tapak demi tapak. Hinggga akhirnya kami juga sampai di puncak suwanting. Merah menyala menyapa, jingga merona dengan hati gembira bersahaja. Lanjut dengan yang kataku wajib "mengabadikan moment" hehe. Teman-teman disini excited banget. Foto bergantian dengan background sunrise yang mantap "siluet" katanya. Juga dengan background Merapi yang gagah terlihat saat itu. "Ini bagus nih" kata dia. Karena saat itu ada dua kamera, jadi aku dan dia jadi juru foto bagi teman-teman lainnya hihi. "Fotoin aku bang" katanya lagi. "Siap" jawabku. "Coba liat" lagi dan lagi. "Ambilin gini bang, bagus soalnya" lagi. "Okee siapp" jawabku terus-terusan. "Ganti gaya" kataku. "Gimana? Gini?" Kata dia. "Ganti gaya lah" kataku. "Gini ajaaa, enggak bisa bergaya" jawab dia dengan senyum-senyum. Lumayan banyak foto dia disini. Karena aku senang aja melihat dia dalam LCD kamera. "Kalo liatt orangnya langsung kan malu" batinku. Beberapa kali juga aku difotokan oleh dia di puncak suwanting ini. "Gantian" kataku. Berposelah aku dihadapan dia dengan agak kaku sedikit wkwk. Terus menerus aku berusaha bersikap biasa saja. Tak tahu saat itu dia sadar atau enggak hehe.

       6 teman lainnya sudah di puncak trianggulasi. Agak cemas juga sebab semua kamera masih dengan kami di puncak suwanting ini. Lagi asiknya berfoto, terjadi moment langka Merapi erupsi kala itu. "Abadikan dong" kataku. Hingga dia beberapa kali mengambil potretku dan juga teman sedaerahku dengan background merapi yang mengeluarkan asap panas waktu itu. Sempat juga aku berbincang dengan dia perihal setting kamera yang aku bawa "ini kenapaa gambar di LCD-nya mengecil yaa" kataku. "Settingan-nya mungkin bang" jawab dia. "Sek, tak liat" kata dia lagi. Sampai akhirnya gambar di LCD itu kembali normal, walaupun beberapa kali kembali lagi mengecil hehe. Di puncak suwanting inilah aku aku semakin dekat dengan dia. Lebih banyak bicara, walaupun agak kaku dikit hehe.

    Lanjut aku memutuskan untuk duluan menyusul teman-teman yang lain ke puncak trianggulasi. Karena aku berfikir mereka juga ingin difoto dengan kamera. "Aku nyusul mereka yaa" kataku. "Okee, kami juga nyusul" jawab dia dan teman. Tidak terlalu jauh, aku sampai di puncak trianggulasi, dan langsung bergegas mengabadikan moment dengan teman-teman di puncak trianggulasi saat itu. Tak lama, dia juga nyusul dengan teman lainnya. Disini juga berfoto tak ada hentinya. Berfoto juga dengan kelompok pendaki lain kala itu. Aku tepat berada ditengah dan disebelah kananku adalah dia. "Ckrekkk ckrekk" beberapa kali dengan kelompok pendaki itu.

        Sembari mata menikmati bentang pemandangan, teman-teman belum juga lelah dengan per-foto-an. Sehingga kuputuskan rokok-an sebatang. Hm... Seperti ada yang kurang, ternyata kopiku dalam tenda ketinggalan. "Gapapa" batinku. Setelah mata puas memandang nikmati alam. Sebelum turun kami berjoget dulu lagi dengan divideokan pendaki lain saat itu hehe. Kemudian turun yang kemungkinan sebagian teman mulai kelaparan. Kembali melewati puncak suwanting, dijalan turunan itu kembali joget-jogetan wkwk, divideokan oleh seorang teman. Jalan terus menurun hingga sampai di sabana 2 yang tak kalah indah, sering banget pendaki lain membuat videoklip di tempat ini. Istirahat sebentar sembari potret sana sini. Dan kembali membuat video joget bersama ditempat ini. Teman-teman sudah berbaris rapi, spontan aku setting kamera Hp dengan memakai tripod. Dan dia menyetting kamera yang dipegangnya untuk merekam juga, dengan alas tas kamera saat itu. "Semua siapp" kataku. Langsung tekan ikon rekam dan kami berlari ke kebarisan. Berjoget seimbang, kiri balik kanan berulang-ulang. Semua teman excited banget tertawa riang. Tapi aku sedikit malu disini wkwk. Jogetku mereka tertawakan hehe. Tapi gapapa, indah untuk dikenang. 

        Usai bincang-bincang, bergegas turun perlahan. Terus berjalan, hingga sampai lagi di tenda dengan perut keroncongan. Langsung aku memasak nasi dulu, sebelum nanti lauk dan sayur-sayuran dimasak oleh cewe-cewe. Kebetulan air tinggal sedikit dan beberapa teman bergegas ke pos air dengan membawa botol-botol Aqua yang kosong untuk diisikan. Setelah nasi matang, langsung dia dan teman memasak lauk dan sayuran. Seperti biasanya bincang dan tawa menghiasi hingga candaan. Tak lama semua matang, bersiap untuk sarapan. Kami makan di luar tenda, dengan menyusun matras dengan rapi. Dan menghidangkan makanan di tengah, sehingga siap disantap bersama-sama.

    Makan selesai, jam menunjukkan pukul 11.40 siang. Kami memutuskan berkemas bersiap untuk turun. 30 menit berlalu packing selesai. "Kamera tolong dibawain yaa" kataku pada dia. "Waduh, naik udah bawa berat" kata dia dengan sedikit merengek hehe. "Yaudah, tak bawain" kataku. Teman-teman semua telah memikul carrier-nya, begitu juga denganku. Tak lupa berfoto bersama dulu sebelum turun. Setelahnya, membentuk lingkaran untuk berdo'a. Sedikit kecewa dan berdosa banget, saat aku mulai memimpin do'a teman-teman tertawa. Sehingga aku juga ikut tertawa. "Yok serius yok" kataku. Aku tak tahu persis apa yang mereka tertawakan saat itu. Sehingga aku gagal memimpin do'a, dan diwakilkan oleh seorang teman kala itu. Mulai melangkahkan kaki dari pos 3 ini untuk turun. Tak jauh dari sana tibalah di pos air. "Aku sholat Dzuhur dulu gaes" kata dia. "Kalian kenapa tidak sholat" kata dia lagi. Wahh, merasa tertampar banget dengan kata itu. "...." Semua senyap, tak ada yang jawab. Karena banyak pendaki lain di pos air ini, dia hanya wudhu saja. "Sholatnya di bawah aja ntar, disini rame" kata teman sedaerahku. Kembali berjalan "aku harus menjaga wudhu-ku nih" kata dia. Tidak jauh berjalan dia sholat dulu ditempat sedikit lapang, sembari kami juga beristirahat sebentar.

    Setelah dia selesai sholat, kembali melangkah berjalan perlahan. Sempat juga berpisah dengan rombongan, aku dan salah satu teman memutuskan turun duluan. Lumayan lama berjalan menyusuri jalur turunan, sebelum pos 2 ada tempat sedikit lapang. Disini aku dan teman beristirahat sejenak menunggu mereka yang ketinggalan di belakang. Hampir setengah jam menunggu, akhirnya mereka sampai juga. Beristirahat sembari menikmati Roma kelapa, sebotol air dan bincang-bincang seperti biasanya. "Tit tut" notifikasi dari Hp ku. Biasa, pesan dari Telkomsel yang sangat rajin mengirimku pesan hampir setiap hari wkwk. "wah ada jaringan disini" kataku. Sambut teman sedaerahku "ume ke ari akak ne ya bang". "Yoh akak ari hi, gere ara" kataku. Spontan salah satu teman sedaerahku mengatakan kepada dia "hm.. belum ada mba Es**" dengan tertawa dan juga teman yang ada disana tertawa dengan kerasnya waktu itu. Aku merasa sedikit malu, langsung bergegas memikul carrierku dan lanjut berjalan turun.


Bersambung ....

Minggu, 23 Juli 2023

TERUNTUK KAMU

Makasih atas support dalam bentuk tulisan beremot senyum itu. Aku sering mendapat support dari manapun atau siapapun. Tapi support yang ini sangat berbeda, bawaannya pengen senyum-senyum ajaa hehe ...

Maaf jarang update tulisanku saat ini. Tapi aku usahakan akan terus menulis disini, walaupun update-nya sedikit lama nanti. Sebab, pikiranku terbagi dengan Bab, Subbab dan banyak lagi.

Teruntuk kamu, Terima Kasih lagi.

Senin, 10 Juli 2023

SAKSI BISU


Kala lentera merah di ufuk timur mengintip syahdu 
Merekah indah temani langkah menanjak denganmu
Sayup-sayup suara menapak mendayu
Tak terasa telapak kaki berpijak di puncak saat itu

Sepoi semilir membelai membuat gigil beku
Tapi tetap hangat dengan dekapan sapamu, merdu
Bertukar lensa, potret manja lugu
"Tak pandai bergaya" katamu
Sedikit lucu, malu-malu

Ya, ada rasa tak biasa menggebu-gebu 
Detak tak karuan mengiringi getaran qalbu
Debar mengisyaratkan pandang akanmu
Enggan berpaling, sangat rekat merayu

Entah, apa kau sadar untaian aksara oleh retinaku
Namun sungguh sahabat merapi itu adalah saksi bisu
Merbabu, perantara temu.

Rabu, 05 Juli 2023

AKU DAN KOPIKU

Malam ini, kopi yang ku seruput sedikit lebih pahit. Mungkin bisa jadi karena senyuman yang biasanya gesit, kini tak lagi terbersit heheh. Walau begitu akan tetap ku teguk, sebab aku dan kopi telah erat terlilit. 

Tak apa yaa, bincang antara dua insan hanya sekelumit.
Demi kebaikan bersama, lawanlah perintah hati dengan sengit. Namun tidak dusta, diri terus saja menguntit hihii. 

Jangan larang yaa, keingintahuan akanmu dan apapun tentangmu selalu saja membuatku tertarik. Tetaplah tersenyum gadis lesung pipit, disanalah tempatku terpasung tak berkutik.

Sabtu, 01 Juli 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 3

    Tak lama berbincang, lanjut bersiap-siap untuk melangkahkan kaki. Sebelumnya membeli makan dulu buat makan siang saat di tengah pendakian nantinya, dan yang membelinya saat itu adalah dia dengan seorang teman. Beberapa menit kemudian, semua personil sudah berkumpul di halaman basecamp. Karena dari basecamp ke gerbang jalur pendakian tidak terlalu jauh, maka kami sepakat tidak menaiki ojek waktu itu.

    Lalu satu persatu teman mulai memikul carrier, juga aku spontan memikul carrierku. Pukul 09.14 kami bergegas dengan semangat membara, juga teman lainnya melangkahkan kaki dengan sangat girangnya. 25 menit berlalu sampailah kami di gerbang jalur pendakian. Sembari istirahat sejenak, disempatkan berfoto dan membuat video joget bareng yang telah diwacanakan sebelumnya. Beberapa kali take video gagal, namun akhirnya berhasil juga. Lanjut dengan berdo'a, sebagai ketua rombongan maka aku yang memimpin do'a. Langsung menginstruksikan semua personil membentuk lingkaran, sambil aku bersiap untuk memimpin. Disini dia tepat disebelah kananku "Duhh.. kenapa ini, aku sedikit gugup saat didekatnya" batinku. Aku bersikeras untuk bersikap biasa saja hingga berdo'a terlaksana dengan baik. 

    Kembali melangkah dengan stamina yang masih lincah. Belum lama berjalan pos 1 terlewati, tanpa istirahat lanjut berjalan langkah demi langkah. Dengan rasa penasaran, kami terus menyusuri jalur pendakian. Asyik berbincang sambil berjalan, akhirnya pos 2 tampak di depan. Jam menunjukkan pukul 14.20, kami putuskan makan siang dulu. Ku sempatkan duduk bersandar carrierku sejenak ditempat yang menurutku nyaman, dengan madu rasa di mulutku. "Minta dong madunya, masih ada?" Tanya dia. Dengan sedikit senyum spontan aku membuka saku celanaku sembari dia mendekat. "Nihh" kataku sambil memberikan madu rasa kepadanya. Disini dia ingin barter dengan snack yang ada di tas selempangnya. "Udah gausah" kataku. "Yaudahh" katanya dengan sedikit senyuman manis hehe. Sedikit gerimis, aku dan teman bergegas memasang flysheet. Lanjut makan siang dengan nasi telur yang dia beli pagi tadi. Ditemani dengan hujan rintik, juga bincang canda tawa saat itu. Makan siang yang sangat nikmat menurutku, sebab mungkin tenaga yang sudah terkuras banyak melewati jalur dari bawah tadi hingga pos 2 ini. 

    Usai makan, aku habiskan sebatang rokok sembari menunggu hujan reda. Tak lama cuaca mulai membaik, kembali gerak berkemas melipat flysheet. Sempat juga ber-selfie dengan dia dan beberapa teman. Lanjut lagi menyicil langkah, dengan sesekali pandang menengadah ke arah puncak. "Tenyata masih jauh" pikirku. Sering juga bertemu dengan pendaki lain yang turun saat itu. Setiap bertemu "Pos 3 seberapa jauh lagi mas?" selalu saja dalam bentuk kalimat tanya wkwk. Bermacam bentuk jawaban dari pendaki-pendaki itu, sehingga aku dan teman lainnya tidak mempercainya hehe. Lanjut lagi dengan napas yang sudah terengah-engah. Sempat juga kami berpisah, sebab aku dan 5 teman lainnya terus melangkah. Dan ternyata 4 teman dibelakang jauh ketinggalan dibawah. "Mungkin sudah lelah" pikirku saat itu. "Kita tunggu mereka dulu" ucapku kepada teman yang bersamaku. "Siapp" jawab mereka. Lumayan lama menunggu, sehingga beberapa teman tertidur saat itu. Kurang lebih 1 jam menunggu, akhirnya mereka sampai juga dengan muka yang sudah sangat kelihatan lesunya. Semangat yang awalnya membara, kini redup adanya. Letih sudah menjamah raga, salah satu teman juga meneteskan air mata. Dari riangnya canda tawa, disini sudah senyap dan berbicara seperlunya saja. Dan aku juga membaringkan badan, sempat dipotret diam-diam saat itu oleh dia. 

    Lebih kurang 20 menit rehat, kembali melangkahkan kaki yang sudah lemas. Walaupun begitu tetap harus berjalan perlahan, sebab perjalanan sudah dekat dengan tujuan. Tak banyak berbincang, sore menjelang hari kian temaram. Pukul 17.40 tibalah kami di pos air, berhenti sejenak untuk mengisi botol Aqua sudah kosong yang kami minum dari bawah tadi. Setelah semua botol terisi, lanjut melangkah lagi. Tidak jauh dari pos air, kami tiba di pos 3 tempat mendirikan tenda. Kami tiba sekitar pukul 18.30 yang dimana hari sudah kelam. Setibanya di pos 3 langsung bergegas mendirikan tenda, takut suhu badan terlanjur turun dan kedinginan nantinya bila kelamaan istirahat. Teman-teman lainnya juga bergerak semua untuk mendirikan tenda. Disini tenda kami dirikan berhadap-hadapan, ditengah kami pasang flysheet agar bisa digunakan untuk menaruh barang bawaan logistik, carrier, dan juga untuk ruang memasak nantinya. Setelah semua beres, kami segerakan memasak air. Mengisi perut dengan energen, coffe sachet, dan aku membuat kopi yang ku bawa sendiri dari kontrakan.

    Sembari menikmati kopi, lanjut dengan masak-masak untuk makan malam. Sebagian teman diluar menikmati sejuknya malam dengan pemandangan terangnya lampu kota. Dia dan seorang teman sedaerahku yang lagi goreng-menggoreng di ruang tengah, dan aku tepat duduk dihadapan dia. Dengan secangkir kopiku dan sebatang rokok kretek "Ahh... Nikmattnyaa" hehe. Dia terus membolak-balik gorengan yang tengah dimandikan dalam minyak panas, sedang tatapku masih rekat memperhatikan lincahnya tangan gadis Jawa memasak saat itu. Juga bincang-bincang dengan teman sedaerahku, dengan sesekali melirik dia sambil menyeruput kopiku yang masih hangat. Satu persatu teman mulai masuk dalam tenda sebab mulai menggigil. Sembari menunggu makanan matang, cowo-cowo menyempatkan bermain Uno untuk mengisi waktu senggang. Sebab kalau ikut memasak, ruang tidak mendukung karena terlalu sempit. Usai semua matang, kami makan malam dulu sebelum memejam. Makan malam kami hanya dengan mie instan, bakwan, nugget, sosis, dan snack lainnya. Sembari menyantap hidangan, senda gurau juga menghiasi suasana malam itu. Setelah perut terisi, tak lagi banyak perbincangan. Mata mulai berat, kami sepakat menyetting alarm jam 02.00 untuk bangun summit nantinya. Dan tak lama pukul 23.00 semua tertidur dengan pulasnya.

Bersambung ....

Rabu, 28 Juni 2023

Puan Pelupa

Seraut wajah dengan paras jelita
Menunduk, penuh tanya dalam kepala
Ia menyebut diri sebagai pelupa
Jauh dari belai sapaan mesra
Luka yang merongga batinnya 
Tentang keluarga yang ia harap cemara
Namun asa menyimpang dari dunianya
Seolah tak ingin dirasa, tapi daya masih kuasa

Begitu tangguhkah ia?
"Tidak, ia hanya berusaha meniadakan luka dengan tawa"

Jika ada yang lebih duka dari air mata
Mungkin lebih baik, daripada harus menyalahkan semesta
Sekuat apapun amarah dalam relung jiwa
Tak akan mampu merubah takdir-Nya
Ia bersyukur tiada hentinya
Ikhlas menerima.

Jaten, 28 Juni 2023

Sabtu, 24 Juni 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 2

        Kembali aku bertemu dia, disini aku diajak teman sedaerahku untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata di Klaten Jawa Tengah. Tempat pemandian yang airnya sejuk dengan pemandangan lumayan indah menurutku. Bisa dikatakan kami berkunjung ke tempat wisata ini adalah perayaan usai sidang Skripsi teman sedaerahku karena telah mendapat Gelar dan menyelesaikan studinya. Kupastikan dia ikut berkunjung kesana, sebab dia merupakan sahabat dekat teman sedaerahku. Berangkatlah kami motoran, 45 menit berlalu kami sampai ke tempat tujuan. Ternyata disini dia membawa kamera juga "berarti dia suka fotografi" benakku. Sembari istirahat cewe-cewe sempatkan untuk berfoto dulu. Tak jauh beda dengan sesi foto di Gedung Dekanat waktu itu. Satu dua kali dia mengambil gambar, kembali aku ditugaskan untuk memotret. "Tolong fotoin bang" "wokee" jawabku. Di pertemuan kali ini aku tak banyak bicara dengannya, hanya seperlunya saja. Tak lama istirahat, teman-teman mulai bermain air dan cowo-cowo berenang di kolam yang lumayan dalam. Karena dia belum ikut menceburkan diri, dia sempatkan memfoto teman-teman di pemandian, termasuk aku juga didalamnya.

        Disini, mataku sesekali meliriknya. Aku tak tahu apakah dia sadar akan hal itu, Wallahu a'lam. Hingga dia ikut mandi dan berenang pun tatapku masih saja kembali meliriknya. "Ini anak berbeda dari orang lain" batinku. Lumayan lama berendam, kami memutuskan untuk makan siang dahulu. Khusus makan siang disini disediakan oleh yang sudah mendapat Gelar, sangat bersyukur bagi kami anak kost wkwk. Selesai makan, sebagian teman lanjut menceburkan badan dan berenang. Juga beberapa teman yang lain duduk di kolam ikan yang dangkal untuk terapi kaki. Sore menjelang, kami bersiap-siap untuk pulang. Diperjalanan pulang kami berpisah, hingga semua sampai ke tempat tinggal masing-masing dan aku juga sampai ke kontrakan.

        Beberapa minggu kemudian lagi-lagi aku bertemu dia, semakin kesini malah semakin dekat. Jadi ada satu planning yang telah lumayan lama direncanakan, yaitu mendaki gunung. Rencana awal, hanya kami teman sederah ada 6 personil yang akan mendaki, kami memutuskan mendaki gunung Merbabu pada hari itu. Pendakian belum tentu kapan dilaksanakan, intinya masih dalam wacana. Beberapa hari telah lewat, teman sedaerahku bilang bahwa dia juga mau ikut mendaki. "Mba es** peh mera beluh bang" ucap teman sedaerahku. "Okee dek, lebih rami lebih gure" jawabku. Dan kami berinisiatif mengajak teman-teman lainnya, sehingga kami genap menjadi 10 personil. Lanjut menentukan tanggal pendakian, kami menentukan planning itu akan dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 Maret 2023. Juga membuat grup di WhatsApp untuk diskusi apa saja yang dibutuhkan, sekalian aku unjuk diri sebagai ketua rombongan dalam pendakian tersebut.

        H-1 pagi kami mulai bersiap-siap, sebab kami memutuskan untuk berangkat malam, agar bisa beristirahat di basecamp sebelum melakukan pendakian. Mulai dari logistik yang mulai dipersiapkan dan alat-alat perlengkapan untuk mendaki yang akan dibawa. Tak lupa kamera untuk mengabadikan momen, juga obat-obatan P3K sebagai persiapan jika terjadi kejadian yang tak inginkan. Sebab, resiko mendaki sangat tinggi maka harus tetap safety. Setelah semua lengkap, ba'da ashar semua personil berkumpul ditempat yang telah ditentukan untuk packing. Packing disini, karena cowo ada 6 dan ceweknya 4 orang. Maka, logistik dan peralatan yang berat dibebankan kepada cowo-cowo. Agar bawaan cewe-cewe sedikit ringan ketika nanjak nantinya. Packing berlanjut hingga jam 20.00, setelahnya lanjut bersiap-siap untuk berangkat.

        Semua personil siap, 21.40 kami berangkat hingga tiba di basecamp swanting kurang lebih pukul 00.30. sesampai di basecamp, kami sempatkan mengisi perut dengan mie instan yang di jual oleh pemilik basecamp tersebut. Juga bercengkerama satu sama lain, tak lupa selfie beberapa kali dengan Hp dia. Dengan canda tawa, suasana jadi hidup dan bahagia. Karena kami berada di dataran tinggi, suhu tubuh menurun. Gigil menggerogoti juga kantuk menghampiri, saatnya berbaring dan tidur dengan posisiku saat itu paling tepi. Sempat juga aku tak bisa tertidur, karena suhu disana akan semakin dingin jika mendekati pagi. Salahku juga sebab memberanikan diri untuk tidur hanya dengan baju dibadan saja tanpa selimut. Adzan subuh berkumandang aku belum juga terlelap. Langsung aku membuka salah satu carier untuk mengambil sleeping bag di dalamnya, kembali membaringkan badan dan hingga akhirnya terlelap juga.

        Pukul 06.20 pagi bangun, bersiap-siap untuk check in. Sebelumnya sarapan dulu, yang sudah disiapkan oleh pemilik basecamp. Sarapan bareng, hanya dengan sayur semuanya. Padahal ada juga ayam goreng yang disediakan pemilik basecamp. "Berhemat" pikirku. Usai sarapan, aku yang perokok wajib merokok dulu. Dan berbincang canda tawa dengan teman-teman lainnya. Disini nih rasa kagum itu mulai disertai rasa cinta terhadapnya. Saat dia duduk bersilang, tatapku sangat rekat padanya. Aku terus menerus memperhatikan dia, dari sudut ruang yang aku sedang mengisi daya Hp-ku disana. Meskipun dia agak ceroboh sedikit, namun aku sukaa :). Sempat juga aku memvideokan dia saat melakukan kecerobohan itu wkwk. Kemudian, aku sebagai ketua rombongan hendak check in ke pos pendakian. Lalu "aku ikut bang" ucapnya. "Ayokkk" jawabku. Tidak jauh dari basecamp, aku dan dia berjalan hingga tiba di pos check in itu. Sedikit antri, dan aku sempat ngomong sama dia "ntar kalo petugasnya ngomong bahasa Jawa, es** yg ngomong yaa" "iya bang" jawabnya. Tak lama saatnya giliran kami, aku langsung masuk ke dalam pos itu dan menunjukan kode booking yang sudah kami dapat dalam pendaftaran online tempo hari. Lanjut dengan pembayaran tiket, asuransi, parkir, dan biaya pengelolaan basecamp. Akhirnya hanya aku yang ngomong sama petugas saat itu, walaupun ada sedikit drama dengan petugas yang ada disana. Hampir saja kami ditipu soal finansial, namun alhamdulillah aku bisa membantah. usai check in, langsung bergegas balik ke basecamp. Dalam langkah demi langkah menuju basecamp "kenapaa tadi bang?" Tanya dia. "Ada drama sedikit" jawabku dengan menjelaskan dengan detail padanya. Disini sikapku pada dia masih biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Walau didalam ada sebuah rasa, namun pikirku rasa itu masih di dalam belum ketahuan :). Hingga tiba di basecamp, juga aku menjelaskan kepada teman-teman yang lain soal drama yang terjadi di pos check in saat itu.


Bersambung ....

Kamis, 22 Juni 2023

DIHANTUI LESUNG

Sedang berusaha memantaskan diri agar kamu yang rekat dalam tatap, menetap. Aku iri padamu yang taat, sedang ku masih sering mengulur niat.

Tak banyak yang ingin ku ucap. Aku hanya dihantui lesungmu setiap saat.

Senin, 19 Juni 2023

DO'A

Ada banyak ruang-ruang takdir
Yang tak bisa kita masuki dengan leluasa dan segera
Namun setidaknya, masih bisa kita jangkau dengan do'a

Di do'amu, aku kuat
Di do'amu, aku semangat
Di do'aku, kusebut namamu
Di do'aku, kupinta berkah atasmu

Ya, biarlah do'a kita yang menjadi penjaga
Bahwa rasa selamanya haruslah murni
Sebagai titisan dari Yang Maha Suci

Tak ada yang lebih membahagiakan
Selain karena cinta pada-Nya
Aku mendo'akanmu
Pun demikian denganmu

Biar pemilik semesta akan menjaga kita
Hingga tiba masanya
Takdir kita ditentukan bersama
Atau hanya teman selamanya

Selayaknya saudara
Iman akan selalu menyatukan kita

Semoga Allah selalu sayang padamu
Duhai pemilik nama yang indah


Karya : Rita Bulan
(Dalam buku "Bulan Tak Pernah Pulang" 2019)

Sabtu, 17 Juni 2023

Dari percakapan kemarin malam, ada batasan-batasan yang kau katakan, aku setuju. Benar, kita harus bekerjasama untuk menjaga dan mengontrol perasaan masing-masing. Sebab, hal itu bisa meminimalisir terjadinya hal-hal yang mengarah ke arah negatif. 

Mengenai latar belakangmu, memang belum sepenuhnya aku tahu tentangmu. Namun, jangan menyuruhku mempertimbangkannya. Bukankah kita harus sama-sama mempertimbangkan? Katamu lagi, apa ada orang yang bisa menerimamu dengan keadaan seperti itu?

Gimana kalau sebaliknya?
Kau juga belum sepenuhnya tau latar belakangku bagaimana. Besar kemungkinan jika kau tahu, aku akan mengatakan hal yang sama. 

Bukankah alur kehidupan itu sudah diatur sedemikian rupa bagi setiap hamba? Yang kita lakukan harus tetap bersyukur bagaimana pun situasi yang kita jalani tanpa membanding-bandingkannya. 

Bahagianya tawamu malam kemarin masih saja dalam benakku hingga kini, kau tertawa lepas mendengar nyanyianku yang bahasa jawa itu. Walaupun aku sedikit malu, tapi aku bahagia sekali melihatnya. Kamu tetap bahagia seperti itu yaa, jangan biarkan sedih menghiasi raut wajahmu.

Dan hari ini kau menyanyikan request-an laguku dibeberapa minggu yang telah lewat. Terima kasih, aku sukaa. Sedikit kritik, tarikan nafasmu kurang panjang hehe. 

Jumat, 16 Juni 2023

Setidaknya aku sedikit lega, sebab aku sudah memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Walau dengan nervous yang membuncah, namun aku tak mau kalah.

Benar katamu, solusi yang tepat untuk saat ini hanya itu. Sebab, kau dan aku tak ingin ada hubungan yang dilarang-Nya. Aku setuju.

Ternyata se-asyik itu ya ngobrol denganmu, dari intonasi bicaramu adem banget. I like that. Maaf kalo cara bicaraku tidak seperti biasanya. Sebab, nadiku auto berdenyut lebih cepat saat di depanmu. Maaf juga atas pertanyaanku, yang hampir saja membuat butir-butir kristal bening itu menetes. 

Terima kasih sudah welcome. Kau hebat, aku terenyuh mendengar ceritamu.

Minggu, 11 Juni 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 1


    Cinta, kedua kalinya kurasakan kembali, setelah cinta pertamaku kandas tak terperi. Cinta yang kusuguhkan perlahan padam, setelah ia membuat keputusan. Fixs bubar tak lagi ada urusan. Sejak saat itu aku enggan membuka hati untuk orang baru yang kian datang. Aku menutup hati rapat-rapat, tak kubiarkan seorang pun masuk lagi. Tepatnya aku memutuskan untuk sendiri.

    Kini, setelah hampir 6 tahun silam, rasa itu kembali berbinar. Bukan pada orang sama, tapi dengan orang berbeda. Dia yang kerap kusebut gadis lesung pipi, mampu membuatku salting saat bertemu dengannya. Kehilangan kata-kata sering kali aku dibuatnya. Matanya sayu, senyumnya menggetarkan jiwa. Ku akui dia berhasil membuat sifat cuek dan sifat dinginku tumbang. Tak jarang aku mencuri pandang, tak tahu entah mengapa hatiku spontan memberi aba-aba mataku untuk menoleh kearahnya.

    Awalnya aku tak mengenalnya walau beberapa kali melihat dia setiap berangkat dan pulang kuliah bersama temannya lewat depan kampusku. Awal aku bertemu dia saat salah satu temanku Ujian Tugas Akhir Skripsi di Gedung Dekanat waktu itu. Kami sama-sama perantau sedaerah yang kuliah di salah satu universitas di pulau jawa. Setelah temanku selesai sidang, sesi berfoto pun dilaksanakan dengan kamera Canon 1100 (kalo ngga salah) miliknya. Senang sangat mewarnai hari itu, sesekali aku ditugaskan untuk mengambil gambar olehnya. "Tolong fotoin bang" Aku mengiyakannya sembari tersenyum. Bisa dikatakan saat itu pandanganku mulai fokus terhadapnya. Sesi berfoto terlaksana dengan penuh excited. Hari mulai mendung hujan kian turun, kami memutuskan untuk nongkrong di kantin basement Dekanat. Setelah banyak basa basi, gosip dan lain-lain, satu persatu teman pamit untuk pulang. Tak lama aku juga berpamitan, sebelumnya tak lupa aku ucapkan selamat sarjana buat teman sedaerahku sambil bersalaman, juga dengan teman lainnya yang ada disana kala itu. Kebetulan, dia adalah orang yang terakhir kusuguhkan salam. Namun ketika aku mengangkat tangan untuk berjabat dengannya, dia tidak menjabat tanganku melainkan hanya tersenyum dan mengangguk. Jantungku berdebar saat itu, sembari terpaksa tangan kiriku membalas jabat tangan kananku. Aku tersenyum dan melangkah pulang. Dalam perjalanan, momen itu masih saja dalam benak. Hingga aku berkata "Dia wanita istimewa" dalam hatiku. Itulah awal aku bertemu dengannya, yang saat itu aku sudah menaruh rasa kagum padanya.

    Kemudian, bertemu dia kembali saat aku hendak menemui Kaprodiku yang kebetulan saat itu sedang diluar kampus, untuk keperluan TTD sebuah laporan yang tenggat pengumpulannya tepat hari itu. Berketepatan hari itu juga dia hendak menemui dosennya yang pas banget rapat di suatu tempat berbarengan dengan dosen yang akan aku temui, sama halnya seperti aku untuk keperluan TTD laporan Tugas Akhir temannya yang tengah dikampung. Kemudian salah seorang teman sedaerahku yang merupakan teman akrabnya juga di satu asrama, yang sudah lumayan lama duduk bersamaku di gazebo sebelah kiri parkiran kampus. Teman sedaerahku mengusulkan untuk pergi bersamanya, disini aku agak ragu karena teringat momen yang terjadi di kantin basement Dekanat waktu itu. Langsung teman sedaerahku mengeluarkan HP dari sakunya, langsung menelpon dia guna memberi tahu bahwa dia akan pergi bersamaku saja. "Apa dia mau yaa? Jabat tangan saja tak mau apalagi boncengan?" Ragu masih menyelimuti pikiranku. Kemudian aku mengiyakannya setelah dia setuju dengan usulan dari teman sedaerahku. Teman sedaerahku berkata "Gih sanah bang, sayang mba es** a bang" dan "Boh dek" jawabku. Kami terus berbincang sembari menunggu dia selesai sholat ashar dulu.

    Tak lama kemudian dia tiba di parkiran kampus. Berangkatlah kami dengan motor Vario miliknya, dengan laju yang dibatasi. Diperjalanan "Arih-arih dih, anak jema ya. Metuh kahe ken urusen" dalam hatiku. 25 menit berlalu, tibalah kami di tempat yang kami tuju. Parkirkan motor, langsung menemui dosen untuk TTD Laporan masing-masing. Setelah mendapatkan TTD dosen lega rasanya. Tak banyak bicara langsung pulang, hanya berhenti di Pertamina sebentar untuk mengisi bensin. Disini aku malu banget sama dia, entah apa yang ada dibenakku, fikiranku ngeblank lupa caranya membuka jok motor. Spontan aku memanggil dia untuk membukanya. Jujur aku malu banget, mungkin mukaku agak memerah saat itu hehe. Kemudian lanjut gas lagi hingga tiba di parkiran awal disana motorku berparkir. Dan dia langsung pamit pulang ke asrama sembari mengatakan "Berizin bang" refleks "Murum-murum" jawabku. Dan aku juga beranjak pulang dengan sisa rasa malu yang kudapatkan di Pertamina waktu itu hihi.


Bersambung .... 

Kamis, 08 Juni 2023

SESEORANG

    Malam ini aku bertemu dia kesekian kalinya. Parasnya yang teduh membuat pikiranku yang gaduh beranjak sesaat. Huhh... tenang rasanya. Walaupun jarang bertegur sapa, namun sering kali mataku meliriknya. Sedikit berbeda, jerawat tumbuh di hidungnya. Tambah manis hihi.

Singkat sajaa, aku bahagia. 

Minggu, 04 Juni 2023

PERIHAL MENGAGUMI

    Engkau tak akan mengagumi seseorang, jika bukan karena Allah yang menggerakkan hatimu. Allah ingin kamu mengenalnya, namun bukan berarti dia akan menjadi takdirmu. 

    Entah dia datang sebagai pembelajaran atau sebuah ujian keimanan. Serahkan saja semua pada Tuhan, semoga diberi jalan kemana arah yang ditujukan. Apabila takdir, biarlah alur Rabbi yang menjadi titik tengah untuk mempertemukan.