Kamis, 27 Juli 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 4

        Alarm berdering tepat jam 02.00 dini hari, sontak mata terjaga dengan pandang remang-remang. Satu persatu teman mulai bercengkerama, dengan riangnya membangunkan teman-teman lainnya juga. "Bangun woyy, tangi-tangi" teriak seorang teman. "Iyooo" sambut teman lainnya. Walau dingin, semua harus keluar dari hangatnya sleeping bag masing-masing.

        Semua siap dengan head lamp di kepala. Sudah siap buat menerangi jalan untuk kami summit kala itu. Kami hanya membawa sedikit bekal, air 3 botol Aqua dan snack buat cemilan di puncak nantinya. "Sudah siapp?" Tanyaku. "Sudah" jawab sebagian teman. "Gasss" ucapku. Tepat pukul 03.00 mulai melangkahkan kaki dengan kakunya, sebab gigil masih melanda. Langkah demi langkah sembari aku menerangi jalan dengan senterku. "Senter dikepalamu ngga hidup yaa?" Kataku pada dia. "Ngga bang, habis baterai kayaknya bang" jawab dia. Hingga aku memperlambat langkahku, dengan sesekali menerangi jalan dia sambil foto sana sini, memotret merapi dihiasi lampu kota dini hari. Lumayan lama menapak suhu tubuh mulai meningkat, perlahan badan terasa hangat. Puncak terlihat, namun langkah agak berat. Teman sedaerahku "harus nyampe puncak, nanti ada yang kecewa" kata dia. Jingga mulai tampak, namun kami belum juga sampai puncak. "Sedikit lagi, yokk yokk semangat" kataku. "Siap" sambut teman yang lain. 

        Teman lain ada yang lebih dulu menapak, dan sudah sampai di puncak suwanting. Tapi kami masih meniti jejak, menyicil langkah tapak demi tapak. Hinggga akhirnya kami juga sampai di puncak suwanting. Merah menyala menyapa, jingga merona dengan hati gembira bersahaja. Lanjut dengan yang kataku wajib "mengabadikan moment" hehe. Teman-teman disini excited banget. Foto bergantian dengan background sunrise yang mantap "siluet" katanya. Juga dengan background Merapi yang gagah terlihat saat itu. "Ini bagus nih" kata dia. Karena saat itu ada dua kamera, jadi aku dan dia jadi juru foto bagi teman-teman lainnya hihi. "Fotoin aku bang" katanya lagi. "Siap" jawabku. "Coba liat" lagi dan lagi. "Ambilin gini bang, bagus soalnya" lagi. "Okee siapp" jawabku terus-terusan. "Ganti gaya" kataku. "Gimana? Gini?" Kata dia. "Ganti gaya lah" kataku. "Gini ajaaa, enggak bisa bergaya" jawab dia dengan senyum-senyum. Lumayan banyak foto dia disini. Karena aku senang aja melihat dia dalam LCD kamera. "Kalo liatt orangnya langsung kan malu" batinku. Beberapa kali juga aku difotokan oleh dia di puncak suwanting ini. "Gantian" kataku. Berposelah aku dihadapan dia dengan agak kaku sedikit wkwk. Terus menerus aku berusaha bersikap biasa saja. Tak tahu saat itu dia sadar atau enggak hehe.

       6 teman lainnya sudah di puncak trianggulasi. Agak cemas juga sebab semua kamera masih dengan kami di puncak suwanting ini. Lagi asiknya berfoto, terjadi moment langka Merapi erupsi kala itu. "Abadikan dong" kataku. Hingga dia beberapa kali mengambil potretku dan juga teman sedaerahku dengan background merapi yang mengeluarkan asap panas waktu itu. Sempat juga aku berbincang dengan dia perihal setting kamera yang aku bawa "ini kenapaa gambar di LCD-nya mengecil yaa" kataku. "Settingan-nya mungkin bang" jawab dia. "Sek, tak liat" kata dia lagi. Sampai akhirnya gambar di LCD itu kembali normal, walaupun beberapa kali kembali lagi mengecil hehe. Di puncak suwanting inilah aku aku semakin dekat dengan dia. Lebih banyak bicara, walaupun agak kaku dikit hehe.

    Lanjut aku memutuskan untuk duluan menyusul teman-teman yang lain ke puncak trianggulasi. Karena aku berfikir mereka juga ingin difoto dengan kamera. "Aku nyusul mereka yaa" kataku. "Okee, kami juga nyusul" jawab dia dan teman. Tidak terlalu jauh, aku sampai di puncak trianggulasi, dan langsung bergegas mengabadikan moment dengan teman-teman di puncak trianggulasi saat itu. Tak lama, dia juga nyusul dengan teman lainnya. Disini juga berfoto tak ada hentinya. Berfoto juga dengan kelompok pendaki lain kala itu. Aku tepat berada ditengah dan disebelah kananku adalah dia. "Ckrekkk ckrekk" beberapa kali dengan kelompok pendaki itu.

        Sembari mata menikmati bentang pemandangan, teman-teman belum juga lelah dengan per-foto-an. Sehingga kuputuskan rokok-an sebatang. Hm... Seperti ada yang kurang, ternyata kopiku dalam tenda ketinggalan. "Gapapa" batinku. Setelah mata puas memandang nikmati alam. Sebelum turun kami berjoget dulu lagi dengan divideokan pendaki lain saat itu hehe. Kemudian turun yang kemungkinan sebagian teman mulai kelaparan. Kembali melewati puncak suwanting, dijalan turunan itu kembali joget-jogetan wkwk, divideokan oleh seorang teman. Jalan terus menurun hingga sampai di sabana 2 yang tak kalah indah, sering banget pendaki lain membuat videoklip di tempat ini. Istirahat sebentar sembari potret sana sini. Dan kembali membuat video joget bersama ditempat ini. Teman-teman sudah berbaris rapi, spontan aku setting kamera Hp dengan memakai tripod. Dan dia menyetting kamera yang dipegangnya untuk merekam juga, dengan alas tas kamera saat itu. "Semua siapp" kataku. Langsung tekan ikon rekam dan kami berlari ke kebarisan. Berjoget seimbang, kiri balik kanan berulang-ulang. Semua teman excited banget tertawa riang. Tapi aku sedikit malu disini wkwk. Jogetku mereka tertawakan hehe. Tapi gapapa, indah untuk dikenang. 

        Usai bincang-bincang, bergegas turun perlahan. Terus berjalan, hingga sampai lagi di tenda dengan perut keroncongan. Langsung aku memasak nasi dulu, sebelum nanti lauk dan sayur-sayuran dimasak oleh cewe-cewe. Kebetulan air tinggal sedikit dan beberapa teman bergegas ke pos air dengan membawa botol-botol Aqua yang kosong untuk diisikan. Setelah nasi matang, langsung dia dan teman memasak lauk dan sayuran. Seperti biasanya bincang dan tawa menghiasi hingga candaan. Tak lama semua matang, bersiap untuk sarapan. Kami makan di luar tenda, dengan menyusun matras dengan rapi. Dan menghidangkan makanan di tengah, sehingga siap disantap bersama-sama.

    Makan selesai, jam menunjukkan pukul 11.40 siang. Kami memutuskan berkemas bersiap untuk turun. 30 menit berlalu packing selesai. "Kamera tolong dibawain yaa" kataku pada dia. "Waduh, naik udah bawa berat" kata dia dengan sedikit merengek hehe. "Yaudah, tak bawain" kataku. Teman-teman semua telah memikul carrier-nya, begitu juga denganku. Tak lupa berfoto bersama dulu sebelum turun. Setelahnya, membentuk lingkaran untuk berdo'a. Sedikit kecewa dan berdosa banget, saat aku mulai memimpin do'a teman-teman tertawa. Sehingga aku juga ikut tertawa. "Yok serius yok" kataku. Aku tak tahu persis apa yang mereka tertawakan saat itu. Sehingga aku gagal memimpin do'a, dan diwakilkan oleh seorang teman kala itu. Mulai melangkahkan kaki dari pos 3 ini untuk turun. Tak jauh dari sana tibalah di pos air. "Aku sholat Dzuhur dulu gaes" kata dia. "Kalian kenapa tidak sholat" kata dia lagi. Wahh, merasa tertampar banget dengan kata itu. "...." Semua senyap, tak ada yang jawab. Karena banyak pendaki lain di pos air ini, dia hanya wudhu saja. "Sholatnya di bawah aja ntar, disini rame" kata teman sedaerahku. Kembali berjalan "aku harus menjaga wudhu-ku nih" kata dia. Tidak jauh berjalan dia sholat dulu ditempat sedikit lapang, sembari kami juga beristirahat sebentar.

    Setelah dia selesai sholat, kembali melangkah berjalan perlahan. Sempat juga berpisah dengan rombongan, aku dan salah satu teman memutuskan turun duluan. Lumayan lama berjalan menyusuri jalur turunan, sebelum pos 2 ada tempat sedikit lapang. Disini aku dan teman beristirahat sejenak menunggu mereka yang ketinggalan di belakang. Hampir setengah jam menunggu, akhirnya mereka sampai juga. Beristirahat sembari menikmati Roma kelapa, sebotol air dan bincang-bincang seperti biasanya. "Tit tut" notifikasi dari Hp ku. Biasa, pesan dari Telkomsel yang sangat rajin mengirimku pesan hampir setiap hari wkwk. "wah ada jaringan disini" kataku. Sambut teman sedaerahku "ume ke ari akak ne ya bang". "Yoh akak ari hi, gere ara" kataku. Spontan salah satu teman sedaerahku mengatakan kepada dia "hm.. belum ada mba Es**" dengan tertawa dan juga teman yang ada disana tertawa dengan kerasnya waktu itu. Aku merasa sedikit malu, langsung bergegas memikul carrierku dan lanjut berjalan turun.


Bersambung ....

Minggu, 23 Juli 2023

TERUNTUK KAMU

Makasih atas support dalam bentuk tulisan beremot senyum itu. Aku sering mendapat support dari manapun atau siapapun. Tapi support yang ini sangat berbeda, bawaannya pengen senyum-senyum ajaa hehe ...

Maaf jarang update tulisanku saat ini. Tapi aku usahakan akan terus menulis disini, walaupun update-nya sedikit lama nanti. Sebab, pikiranku terbagi dengan Bab, Subbab dan banyak lagi.

Teruntuk kamu, Terima Kasih lagi.

Senin, 10 Juli 2023

SAKSI BISU


Kala lentera merah di ufuk timur mengintip syahdu 
Merekah indah temani langkah menanjak denganmu
Sayup-sayup suara menapak mendayu
Tak terasa telapak kaki berpijak di puncak saat itu

Sepoi semilir membelai membuat gigil beku
Tapi tetap hangat dengan dekapan sapamu, merdu
Bertukar lensa, potret manja lugu
"Tak pandai bergaya" katamu
Sedikit lucu, malu-malu

Ya, ada rasa tak biasa menggebu-gebu 
Detak tak karuan mengiringi getaran qalbu
Debar mengisyaratkan pandang akanmu
Enggan berpaling, sangat rekat merayu

Entah, apa kau sadar untaian aksara oleh retinaku
Namun sungguh sahabat merapi itu adalah saksi bisu
Merbabu, perantara temu.

Rabu, 05 Juli 2023

AKU DAN KOPIKU

Malam ini, kopi yang ku seruput sedikit lebih pahit. Mungkin bisa jadi karena senyuman yang biasanya gesit, kini tak lagi terbersit heheh. Walau begitu akan tetap ku teguk, sebab aku dan kopi telah erat terlilit. 

Tak apa yaa, bincang antara dua insan hanya sekelumit.
Demi kebaikan bersama, lawanlah perintah hati dengan sengit. Namun tidak dusta, diri terus saja menguntit hihii. 

Jangan larang yaa, keingintahuan akanmu dan apapun tentangmu selalu saja membuatku tertarik. Tetaplah tersenyum gadis lesung pipit, disanalah tempatku terpasung tak berkutik.

Sabtu, 01 Juli 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 3

    Tak lama berbincang, lanjut bersiap-siap untuk melangkahkan kaki. Sebelumnya membeli makan dulu buat makan siang saat di tengah pendakian nantinya, dan yang membelinya saat itu adalah dia dengan seorang teman. Beberapa menit kemudian, semua personil sudah berkumpul di halaman basecamp. Karena dari basecamp ke gerbang jalur pendakian tidak terlalu jauh, maka kami sepakat tidak menaiki ojek waktu itu.

    Lalu satu persatu teman mulai memikul carrier, juga aku spontan memikul carrierku. Pukul 09.14 kami bergegas dengan semangat membara, juga teman lainnya melangkahkan kaki dengan sangat girangnya. 25 menit berlalu sampailah kami di gerbang jalur pendakian. Sembari istirahat sejenak, disempatkan berfoto dan membuat video joget bareng yang telah diwacanakan sebelumnya. Beberapa kali take video gagal, namun akhirnya berhasil juga. Lanjut dengan berdo'a, sebagai ketua rombongan maka aku yang memimpin do'a. Langsung menginstruksikan semua personil membentuk lingkaran, sambil aku bersiap untuk memimpin. Disini dia tepat disebelah kananku "Duhh.. kenapa ini, aku sedikit gugup saat didekatnya" batinku. Aku bersikeras untuk bersikap biasa saja hingga berdo'a terlaksana dengan baik. 

    Kembali melangkah dengan stamina yang masih lincah. Belum lama berjalan pos 1 terlewati, tanpa istirahat lanjut berjalan langkah demi langkah. Dengan rasa penasaran, kami terus menyusuri jalur pendakian. Asyik berbincang sambil berjalan, akhirnya pos 2 tampak di depan. Jam menunjukkan pukul 14.20, kami putuskan makan siang dulu. Ku sempatkan duduk bersandar carrierku sejenak ditempat yang menurutku nyaman, dengan madu rasa di mulutku. "Minta dong madunya, masih ada?" Tanya dia. Dengan sedikit senyum spontan aku membuka saku celanaku sembari dia mendekat. "Nihh" kataku sambil memberikan madu rasa kepadanya. Disini dia ingin barter dengan snack yang ada di tas selempangnya. "Udah gausah" kataku. "Yaudahh" katanya dengan sedikit senyuman manis hehe. Sedikit gerimis, aku dan teman bergegas memasang flysheet. Lanjut makan siang dengan nasi telur yang dia beli pagi tadi. Ditemani dengan hujan rintik, juga bincang canda tawa saat itu. Makan siang yang sangat nikmat menurutku, sebab mungkin tenaga yang sudah terkuras banyak melewati jalur dari bawah tadi hingga pos 2 ini. 

    Usai makan, aku habiskan sebatang rokok sembari menunggu hujan reda. Tak lama cuaca mulai membaik, kembali gerak berkemas melipat flysheet. Sempat juga ber-selfie dengan dia dan beberapa teman. Lanjut lagi menyicil langkah, dengan sesekali pandang menengadah ke arah puncak. "Tenyata masih jauh" pikirku. Sering juga bertemu dengan pendaki lain yang turun saat itu. Setiap bertemu "Pos 3 seberapa jauh lagi mas?" selalu saja dalam bentuk kalimat tanya wkwk. Bermacam bentuk jawaban dari pendaki-pendaki itu, sehingga aku dan teman lainnya tidak mempercainya hehe. Lanjut lagi dengan napas yang sudah terengah-engah. Sempat juga kami berpisah, sebab aku dan 5 teman lainnya terus melangkah. Dan ternyata 4 teman dibelakang jauh ketinggalan dibawah. "Mungkin sudah lelah" pikirku saat itu. "Kita tunggu mereka dulu" ucapku kepada teman yang bersamaku. "Siapp" jawab mereka. Lumayan lama menunggu, sehingga beberapa teman tertidur saat itu. Kurang lebih 1 jam menunggu, akhirnya mereka sampai juga dengan muka yang sudah sangat kelihatan lesunya. Semangat yang awalnya membara, kini redup adanya. Letih sudah menjamah raga, salah satu teman juga meneteskan air mata. Dari riangnya canda tawa, disini sudah senyap dan berbicara seperlunya saja. Dan aku juga membaringkan badan, sempat dipotret diam-diam saat itu oleh dia. 

    Lebih kurang 20 menit rehat, kembali melangkahkan kaki yang sudah lemas. Walaupun begitu tetap harus berjalan perlahan, sebab perjalanan sudah dekat dengan tujuan. Tak banyak berbincang, sore menjelang hari kian temaram. Pukul 17.40 tibalah kami di pos air, berhenti sejenak untuk mengisi botol Aqua sudah kosong yang kami minum dari bawah tadi. Setelah semua botol terisi, lanjut melangkah lagi. Tidak jauh dari pos air, kami tiba di pos 3 tempat mendirikan tenda. Kami tiba sekitar pukul 18.30 yang dimana hari sudah kelam. Setibanya di pos 3 langsung bergegas mendirikan tenda, takut suhu badan terlanjur turun dan kedinginan nantinya bila kelamaan istirahat. Teman-teman lainnya juga bergerak semua untuk mendirikan tenda. Disini tenda kami dirikan berhadap-hadapan, ditengah kami pasang flysheet agar bisa digunakan untuk menaruh barang bawaan logistik, carrier, dan juga untuk ruang memasak nantinya. Setelah semua beres, kami segerakan memasak air. Mengisi perut dengan energen, coffe sachet, dan aku membuat kopi yang ku bawa sendiri dari kontrakan.

    Sembari menikmati kopi, lanjut dengan masak-masak untuk makan malam. Sebagian teman diluar menikmati sejuknya malam dengan pemandangan terangnya lampu kota. Dia dan seorang teman sedaerahku yang lagi goreng-menggoreng di ruang tengah, dan aku tepat duduk dihadapan dia. Dengan secangkir kopiku dan sebatang rokok kretek "Ahh... Nikmattnyaa" hehe. Dia terus membolak-balik gorengan yang tengah dimandikan dalam minyak panas, sedang tatapku masih rekat memperhatikan lincahnya tangan gadis Jawa memasak saat itu. Juga bincang-bincang dengan teman sedaerahku, dengan sesekali melirik dia sambil menyeruput kopiku yang masih hangat. Satu persatu teman mulai masuk dalam tenda sebab mulai menggigil. Sembari menunggu makanan matang, cowo-cowo menyempatkan bermain Uno untuk mengisi waktu senggang. Sebab kalau ikut memasak, ruang tidak mendukung karena terlalu sempit. Usai semua matang, kami makan malam dulu sebelum memejam. Makan malam kami hanya dengan mie instan, bakwan, nugget, sosis, dan snack lainnya. Sembari menyantap hidangan, senda gurau juga menghiasi suasana malam itu. Setelah perut terisi, tak lagi banyak perbincangan. Mata mulai berat, kami sepakat menyetting alarm jam 02.00 untuk bangun summit nantinya. Dan tak lama pukul 23.00 semua tertidur dengan pulasnya.

Bersambung ....