Karya : Suratno
Dipertemukan denganmu merupakan kebahagiaan bagiku. Di ajak masuk berlabuh dihatimu suatu keberuntungan yang tiada tara. Tapi itu dulu, waktu aku belum dijadikan orang lain olehmu. Kini tawa dan bahagiamu bukan lagi untuku. Entah apa yang membuatmu pergi dariku, sampai tega kau melupakanku. Semakin jauh aku mengejarmu, semakin cepat kau menghilang dariku.
Kukira kau akan setia, ternyata disana sudah ada yang kau jaga hatinya. Jagalah dia yang kau anggap setia dan jangan pernah berpaling darinya. Mungkin bagimu hadirku hanyalah secuil kecil yang tak terlihat dan hanya bisa membuatmu sesak, mungkin bagimu perjuanganku kau anggap tong kosong nyaring bunyinya yang tak ada apa-apa didalamnya. Tapi mengapa kau tak pernah sadar tentang diriku yang selalu menyemangatimu disaat para penghianat mengecewakanmu, harus sebodoh apa lagi perjuanganku agar terlihat dimatamu, saat kau rapuh, saat bahagia, terasa sangat sulit kau sentuh, sebodoh inilah aku yang tidak sedikitpun menjauh.
Apakah aku harus berjuang dengan luka yang membentang. Bagiku berjuang itu menyenangkan, tapi mengapa kau bergandengan dengan lain tangan? Satu hal yang harus kau ingat, sebelum aku terlanjur menjadi penghianat, jaga dan rawatlah orang yang benar-benar setia, jangan sampai kau buat kecewa, cukup aku saja yang terluka.
Dengan hati kumencintai, sampai tega kau hianati orang yang begitu peduli. Perasaan bukan layaknya pemain cadangan yang apabila dia terluka bisa digantikan pemainnya. Perasaan juga bukan layaknya musik yang bisa kau putar dan kau acak sesuai seleramu. Hati-hati dalam menjaga hati, kalau kau salah menyikapi dia bisa berubah menyakiti, bukan aku bermaksud membencimu, aku hanya tak mau kau terluka masalah hati.
Jika kau hanya singgah lalu berpindah bersikaplah seperti tamu, agar aku tak salah menyuguhimu. Jika kau mencintaiku mengapa kau pergi meninggalkanku. Wajar kau memilih menjadi tamu, ternyata aku salah menilaimu.
Kukira kau akan menetap dihatiku, ternyata logika ku salah. Jangan pernah beri harap padaku, jika akhirnya kau berlabuh dilain bahu. Aku lebih memilih bertemu dengan hal yang memyeramkan namun mudah untuk kulupakan, daripada bertemu denganmu hanya akan melahirkan kenangan yang begitu menyakitkan.
Menjagamu adalah layaknya tugasku, memilikimu ketidakmungkinan kau bersanding denganku. karena kau tak pernah menyelipkan namaku dalam doamu. Mencintaimu adalah impianku. Tapi bagiku melupakan dan mengikhlaskanmu adalah langkah yang tepat, agar aku terhindar dari luka yang sangat pekat.
mantap
BalasHapustak ada yang abadi :(
BalasHapusSakit🥺😖
BalasHapus