Menunduk, penuh tanya dalam kepala
Ia menyebut diri sebagai pelupa
Jauh dari belai sapaan mesra
Luka yang merongga batinnya
Tentang keluarga yang ia harap cemara
Namun asa menyimpang dari dunianya
Seolah tak ingin dirasa, tapi daya masih kuasa
Begitu tangguhkah ia?
"Tidak, ia hanya berusaha meniadakan luka dengan tawa"
Jika ada yang lebih duka dari air mata
Mungkin lebih baik, daripada harus menyalahkan semesta
Sekuat apapun amarah dalam relung jiwa
Tak akan mampu merubah takdir-Nya
Ia bersyukur tiada hentinya
Ikhlas menerima.
Jaten, 28 Juni 2023