Senin, 04 September 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 6

        Seperti kataku sahabat Merapi itu adalah saksi bisu, perantara temu. Sejak pulang dari Merbabu, aku merasakan sesuatu yang sangat kuat. Iya, sesuatu yang mendorongku untuk mencari tahu apa saja yang berkaitan dengannya. Mulai dari Instagram maupun dari tulisan-tulisan dia. Terhitung sering aku stalking Instagram juga Tumblr-nya, mulai dari baca tulisan-tulisan dia, watching reels di Instagram, scrolling postingan dia. Intinya semua tentang dia. Dari sini aku tahu sedikit tentang keluarga dia, apa kesukaan dan cita-citanya. Terus saja kulakukan berulang-ulang, gabut sedikit hatiku instan mengarahkan untuk ngestalk dia. Juga tak bosan-bosan, melihat-lihat foto-foto di Merbabu kala itu. 

        Hingga suatu saat aku membuka grup WhatsApp pendakian gunung Merbabu waktu itu, yang ada dia didalamnya. Aku ingin sekali menghubunginya via WhatsApp, tapi aku masih ragu. Karena tidak tahu cara bagaimana menyapa duluan. Takut juga nanti dia merasa tidak nyaman jika aku menghubungi dia dengan tiba-tiba begitu. Akhirnya, kontak dia aku save. Dengan alasan "ahh, di save aja dulu deh". Beberapa hari kedepan, dia memposting video joget-joget kami di gunung Merbabu waktu itu. "Ternyata dia ngesave kontakku?" bertanya-tanya dalam benakku. Aku tak tahu apakah dia yang duluan ngesave kontakku, atau aku yang lebih dulu. Saat itu, yang kurasakan senang bercampur panik jugaa wkwk. Senang karena aku bisa melihat status dia, panik karena gimana nanti kalo ditanyain kenapa aku ngesave kontak dia. Namun, sampai saat ini pertanyaan itu belum terdengar ditelingaku.

        Berulang kali aku replay status dia, hingga aku memberanikan diri untuk komen pertama kalinya. "Aduhh, jogetku kek gimana gitu yaa" komenanku pada statusnya. "Geli sendiri ya bang wkwk" jawabnya. Itu awal percakapan aku dan dia di WhatsApp. Tak banyak percakapan saat itu. Langsung ditutup dengan kata "gapapa, buat kenang-kenangan" balasnya. Berselang beberapa hari kembali aku komen di status WhatsApp dia. Kali ini dia posting story sedang memainkan gitar. "Wahh, ternyata multitalent" kataku. "Stiker malu-malu" balas dia. Hampir setiap Minggu ada saja status dia yang aku respon. Dari sini aku dan dia mulai sering chattingan. Bertegur sapa, tanya menanya, semangat menyemangati satu sama lain. Pasalnya dia sedang dalam penyusunan skripsi kala itu, dan aku juga dalam menyusun proposal. Alhamdulillah dia welcome, mungkin saat itu juga rasa yang kurasakan, sudah terbaca olehnya.

        Bulan Ramadhan tiba, lagi dan lagi aku bertemu dia. Kami berencana untuk sholat tarawih di Masjid Raya. Dia ikut saat itu, dan aku juga mengajak teman-teman yang ada dikontrakkan. Sorenya kami berangkat bersama-sama, setibanya kami berbuka puasa terdahulu dengan takjil yang telah disediakan disana. Lanjut dengan sholat magrib. Tak lama sholat isya, lanjut dengan sholat tarawih 23 rakaat. Usai tarawih kami keluar, ternyata dia dan teman sedaerahku sudah diluar. Sebab mereka melakukan sholat tarawih hanya 11 rakaat saja. Kami bertemu di halaman masjid. Karena masjid ini terhitung baru selesai dibangun, kami menyempatkan mengabadikan moment dengan berfoto beberapa kali disana. Disini aku dan dia tak banyak bicara. Sebelum pulang "jadi bang stikernya?" Tanya dia di parkiran. "Emang bawa?" Tanyaku kembali. "Bawa" kata dia sembari memberiku stiker. "Thanks you" ucapku. Nah, stiker ini aku minta saat aku komen status dia waktu itu. Ternyata benar dikasih hehe.

        Tiba saatnya acara wisuda teman sedaerahku. Disini aku kembali bertemu dengan dia. Dan profesi kami pada hari itu sama, yaitu sebagai fotografer hehe. Aku sebagai fotografer teman sedaerahku, sedangkan dia sebagai fotografer sahabatnya yang wisuda hari itu juga. H-1 dia menghubungiku "bang, besok kesana jam berapa?" Tanya dia di WhatsApp. "Jam 08.00 mungkin" jawabku. "Walah rajin kali" balas dia lagi. "Ehh ngga tau juga sihh" kataku. Di akhir percakapan "Besok infoin aja bang" tutupnya. Dan aku mengiyakannya.

        Hari H hampir pukul 10.00 dia menghubungiku lagi. "Dah di kampus bang" tanya dia. "Depan TK" balasku. "Oke" balas dia dengan singkat. Tak lama dia tiba di kampus dan aku sudah stay disana sedari pagi. Aku melihatnya memarkirkan motor. Setelahnya, dia berjalan mendekat sembari aku melambaikan tangan. Detak jantungku mulai tak biasa, degup tak beraturan kurasakan. Dia sampai tak berbicara denganku sama sekali. "Pasti dia merasakan hal yang sama" benakku. Terus saja diam tanpa berbicara sekalipun. Untungnya disana ada beberapa teman lainnya, sehingga aku dan dia tidak terlalu canggung. Dan bisa mengobrol dengan teman-teman yang ada disana saat itu.

        Acara wisuda usai, profesi fotografer saatnya beraksi. Ku bergegas menemui teman sedaerahku, dan dia juga bergegas menemui sahabatnya. Sementara berpisah untuk melakukan aktivitas masing-masing. Teman sedaerahku meminta berfoto di depan gedung rektorat kala itu. Hingga siang, sesi berfoto belum juga selesai. Saat aku dengan teman sedaerahku, dia berkata "itu mbaa es** bang". "Manaa?" Jawabku sepontan. "Ciee" kata teman sedaerahku. Aku tersenyum malu. Teman sedaerahku langsung memanggil dia, dan dia berjalan menghampiri kami saat itu. Jantung berdebar, berdetak, dan berdegup lagi. Berusaha sebisaku untuk bersikap biasa saja. Namun, terlihat canggung juga. Tepatnya salting sih hehe. Saat itu dia dan teman sedaerahku yang merupakan sahabat dekatnya juga, berfoto ceria bergembira. Seperti biasa, aku sebagai juru kamera hehe. Teman sedaerahku meminta aku dan dia foto berdua. Namun tidak berfoto saat itu, sebab aku malu, dia juga tak mau. Karena tidak bisa biasa-biasa saja. 

        Setelahnya, kami duduk di trotoar jalan depan rektorat. Disini aku dan dia sempat mengobrol sepatah dua patah kata. "Itu kamera siapa?" Tanyaku. "Kamera temen bang" jawab dia. Dan obrolan-obrolan lain perihal kamera. Sempat juga aku dan dia difotokan teman sedaerahku. "Foto bang?" Tanya dia. "Hm.. tersenyum" ekspresiku. Sedikit malu, dan dia mengekspresikan pose yang kataku "seperti kerasukan wkwk". "Cekrek cekrek beberapa kali" difotokan oleh teman sedaerahku. Sebelum pulang, dia minta difotokan di depan rektorat. "Sana biar tak fotoin" kataku. Langsung dia berpose, tampak sekali dan terbaca olehku. Dia juga tak bisa biasa-biasa saja. Kuambil gambar dia beberapa kali, setelah kami beranjak pulang. Karena terik mentari sangat menyengat hari itu. 


Bersambung ....