Minggu, 11 Juni 2023

KETIKA SEMUA YANG KUTULIS ADALAH TENTANG DIA. Part 1


    Cinta, kedua kalinya kurasakan kembali, setelah cinta pertamaku kandas tak terperi. Cinta yang kusuguhkan perlahan padam, setelah ia membuat keputusan. Fixs bubar tak lagi ada urusan. Sejak saat itu aku enggan membuka hati untuk orang baru yang kian datang. Aku menutup hati rapat-rapat, tak kubiarkan seorang pun masuk lagi. Tepatnya aku memutuskan untuk sendiri.

    Kini, setelah hampir 6 tahun silam, rasa itu kembali berbinar. Bukan pada orang sama, tapi dengan orang berbeda. Dia yang kerap kusebut gadis lesung pipi, mampu membuatku salting saat bertemu dengannya. Kehilangan kata-kata sering kali aku dibuatnya. Matanya sayu, senyumnya menggetarkan jiwa. Ku akui dia berhasil membuat sifat cuek dan sifat dinginku tumbang. Tak jarang aku mencuri pandang, tak tahu entah mengapa hatiku spontan memberi aba-aba mataku untuk menoleh kearahnya.

    Awalnya aku tak mengenalnya walau beberapa kali melihat dia setiap berangkat dan pulang kuliah bersama temannya lewat depan kampusku. Awal aku bertemu dia saat salah satu temanku Ujian Tugas Akhir Skripsi di Gedung Dekanat waktu itu. Kami sama-sama perantau sedaerah yang kuliah di salah satu universitas di pulau jawa. Setelah temanku selesai sidang, sesi berfoto pun dilaksanakan dengan kamera Canon 1100 (kalo ngga salah) miliknya. Senang sangat mewarnai hari itu, sesekali aku ditugaskan untuk mengambil gambar olehnya. "Tolong fotoin bang" Aku mengiyakannya sembari tersenyum. Bisa dikatakan saat itu pandanganku mulai fokus terhadapnya. Sesi berfoto terlaksana dengan penuh excited. Hari mulai mendung hujan kian turun, kami memutuskan untuk nongkrong di kantin basement Dekanat. Setelah banyak basa basi, gosip dan lain-lain, satu persatu teman pamit untuk pulang. Tak lama aku juga berpamitan, sebelumnya tak lupa aku ucapkan selamat sarjana buat teman sedaerahku sambil bersalaman, juga dengan teman lainnya yang ada disana kala itu. Kebetulan, dia adalah orang yang terakhir kusuguhkan salam. Namun ketika aku mengangkat tangan untuk berjabat dengannya, dia tidak menjabat tanganku melainkan hanya tersenyum dan mengangguk. Jantungku berdebar saat itu, sembari terpaksa tangan kiriku membalas jabat tangan kananku. Aku tersenyum dan melangkah pulang. Dalam perjalanan, momen itu masih saja dalam benak. Hingga aku berkata "Dia wanita istimewa" dalam hatiku. Itulah awal aku bertemu dengannya, yang saat itu aku sudah menaruh rasa kagum padanya.

    Kemudian, bertemu dia kembali saat aku hendak menemui Kaprodiku yang kebetulan saat itu sedang diluar kampus, untuk keperluan TTD sebuah laporan yang tenggat pengumpulannya tepat hari itu. Berketepatan hari itu juga dia hendak menemui dosennya yang pas banget rapat di suatu tempat berbarengan dengan dosen yang akan aku temui, sama halnya seperti aku untuk keperluan TTD laporan Tugas Akhir temannya yang tengah dikampung. Kemudian salah seorang teman sedaerahku yang merupakan teman akrabnya juga di satu asrama, yang sudah lumayan lama duduk bersamaku di gazebo sebelah kiri parkiran kampus. Teman sedaerahku mengusulkan untuk pergi bersamanya, disini aku agak ragu karena teringat momen yang terjadi di kantin basement Dekanat waktu itu. Langsung teman sedaerahku mengeluarkan HP dari sakunya, langsung menelpon dia guna memberi tahu bahwa dia akan pergi bersamaku saja. "Apa dia mau yaa? Jabat tangan saja tak mau apalagi boncengan?" Ragu masih menyelimuti pikiranku. Kemudian aku mengiyakannya setelah dia setuju dengan usulan dari teman sedaerahku. Teman sedaerahku berkata "Gih sanah bang, sayang mba es** a bang" dan "Boh dek" jawabku. Kami terus berbincang sembari menunggu dia selesai sholat ashar dulu.

    Tak lama kemudian dia tiba di parkiran kampus. Berangkatlah kami dengan motor Vario miliknya, dengan laju yang dibatasi. Diperjalanan "Arih-arih dih, anak jema ya. Metuh kahe ken urusen" dalam hatiku. 25 menit berlalu, tibalah kami di tempat yang kami tuju. Parkirkan motor, langsung menemui dosen untuk TTD Laporan masing-masing. Setelah mendapatkan TTD dosen lega rasanya. Tak banyak bicara langsung pulang, hanya berhenti di Pertamina sebentar untuk mengisi bensin. Disini aku malu banget sama dia, entah apa yang ada dibenakku, fikiranku ngeblank lupa caranya membuka jok motor. Spontan aku memanggil dia untuk membukanya. Jujur aku malu banget, mungkin mukaku agak memerah saat itu hehe. Kemudian lanjut gas lagi hingga tiba di parkiran awal disana motorku berparkir. Dan dia langsung pamit pulang ke asrama sembari mengatakan "Berizin bang" refleks "Murum-murum" jawabku. Dan aku juga beranjak pulang dengan sisa rasa malu yang kudapatkan di Pertamina waktu itu hihi.


Bersambung ....