Kukira aku adalah satu-satunya. Ternyata, aku hanyalah salah satunya. Dari dulu aku yang harusnya sadar, kalau aku hanya pelampiasan semata. Ya, itulah yang kudapat. Aku hanya bisa diam dan melihat bahagiamu bersamanya. Mengapa kau hadirkan cinta, jika nyatanya kau memilih bersamanya. Akan kau sebut apa hadirku yang selalu menghibur disaat resah dan bosanmu.
Bukankah hati ini yang selalu menenangkan dan menerima egomu. Mengapa kau tak pernah sadar akan hadirku yang selalu berusaha membuatmu tertawa. Mengapa kau hadirkan dia, disaat aku sudah sangat mencinta. Terkadang cinta bisa buat bahagia, tapi nyatanya hanya omongan belaka.
Cinta juga bisa membuat buta, saat kurasa kaulah yang kusebut bahagia. Namun kau selalu memandangku sebelah mata, cintaku tak pernah dianggap ada. Sedangkan kau yang ku pilih setia, malah tega mendua. Disaat aku dan kamu menjadi kesatuan, inilah kuanggap bahagia. Namun mengapa kau menambahkan dia yang belum tentu setia. Yang aku tau, cinta itu cukup dua lakon saja untuk saling bekerja sama. Entah dalam suka maupun duka, atau sekedar melepas rindu yang selalu mengganggu. Tapi kau malah menambahkan yang lainnya.
Apa ini yang dinamakan keseimbangan? Ini tak wajar. Atau mungkin aku yang harus sadar, kau memang ingin benar-benar berpendar. Mungkin aku yang harus tahu diri, bahwa cinta tak harus saling memiliki. Bukankah kita sudah saling melengkapi? Tapi mengapa kau mencari pengganti yang menurutmu begitu mencintai. Sedangkan yang ku lakukan hanya berusaha setia dan selalu ada. Lantas mengapa kau tak pernah mengerti tentang perasaan ini. Mengapa kau tak pernah mengerti, tentang rasa yang begitu mencintai. Atau aku yang harus berkaca bahwa kau tak lagi cinta. Harus sadar diri untuk pergi dari kisah ini.
Mungkin aku hanyalah orang yang kau jadikan tempat pelarian, disaat para pengkhianat mengecewakan. Mengapa kau hadirkan kenyamanan bila akhirnya kau meninggalkan. Mengapa aku yang kau jadikan sasaran disaat para bajingan memulai pengkhianatan. Kamu tidak kejam. Hanya saja, pandai dalam memainkan peran. Tapi mengapa kau tak pernah mengerti, bahwa aku disini bermimpi dan berharap kau kembali.
Berulang kali kau menyakiti, namun kau tak pernah sedikitpun mau peduli. Jika aku tempat pelarian ternyaman, lakukan dan teruskanlah sikapmu. Yang begitu berkesan, hingga kau benar-benar bosan. Aku masih sanggup diasingkan walau berat dirasakan. Aku akan tetap bertahan, bertahan dalam kesakitan. Biarlah aku yang merasakan dijadikan orang asing olehmu. Tak mengapa, aku sudah terlanjur hancur suatu saat rasa cinta ini akan terkubur. Aku hanya terdiam dan berharap, kau akan sadar dengan perasaanku yang begitu mencintai.
Dijadikan orang ketiga, siapa yang mau menerima? Kenyataan yang begitu berat untuk dirasakan. Biarlah rasaku hambar. Aku sudah terbiasa diabaikan, aku sadar kau akan meninggalkan.
Hari terus berlalu, bahkan bulan pun berganti. Masih saja, kau tak sedikitpun memperdulikan orang yang begitu memperjuangkan. Mencintai yang telah memiliki, bukan karena aku tak mampu mencari. Aku hanya tak mau kamu tersakiti. Mencintai yang telah dimiliki bukan karena aku tak tahu diri. Hanya saja, aku kebal akan sakit hati dan kenyamanan yang tak mampu dibohongi. Tidak dicintai olehmu, suatu kabar buruk dan membuatku semakin terpuruk. Berbahagialah bersamanya, meski hatiku remuk. Biarlah, biarlah aku menjadi penonton atas kebahagiaan yang kau rasakan. Melangkah tak bisa melepas tak rela. Aku sudah terbiasa dengan senyum yang begitu menyiksa. Aku hanya bisa menyaksikan bahagiamu bersamanya.
Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan hanya berdiam ditempat bersama luka yang sangat pekat. Lupakan yang kemarin. Belajarlah setia, dan jangan pernah berpindah dengan hati yang lain.